Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

CTEV (KAKI PENGKOR)

Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) atau kaki pengkor merupakan suatu kelainan bawaan dari kaki yang penyebabnya tidak diketahui secara pasti. Deteksi awal kelainan ini dapat dilakukan selama masa kehamilan dengan bantuan ultrasonografi (USG) selama kontrol kehamilan / Ante Natal Care (ANC) oleh dokter kandungan, dan dapat juga dilakukan setelah bayi Iahir melalui skrining klinis oleh dokter anak atau bidan atau orang tua penderita. Jika dideteksi lebih awal, penanganan dapat dilakukan saat periode yang optimal (1-2 minggu setelah lahir) dengan harapan angka kesembuhan lebih baik.

Pada kaki pengkor, terjadi kekakuan otot dan tendon bagian dalam kaki sehingga tendon menjadi pendek dan menarik kaki ke arah dalam. Penyebab yang pasti belum dapat diketahui. Kelainan ini mulai terbentuk pada awal masa embrionik. Secara fisiologis ketika masih berada di kandungan, posisi kaki memang menghadap ke dalam. Namun, setelah lahir perlahan posisi kaki mulai ke depan dan terlihat normal. Sehingga perlu diwaspadai jika posisi kaki tersebut menetap setelah lahir. Kelainan ini akan semakin berkembang dan semakin sulit pula untuk dikoreksi seiring bertambahnya usia.

Metode terapi yang paling aman dan tepat adalah peregangan kembali tendon-tendon tersebut secara berkala. Waktu terbaik pemakaian gips pada metode ini adalah 1-2 minggu pertama pasca kelahiran, yang dikerjakan oleh dokter spesialis Orthopedi. Penanganan terbaik pada saat ini adalah tatalaksana nonoperatif secara bertahap dengan metode Ponseti yang diperkenalkan oleh Profesor Ignacio Ponseti dari Universitas Lowa, Amerika Serikat. Metode ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu :

  • Pemasangan gips secara berkala yang dilakukan setiap minggu selama kurang lebih 6 minggu. Gips ini untuk mempertahankan hasil koreksi pada kaki pengkor. Penggantian gips umumnya dilakukan diantara interval 7 hari, gips dapat dibuka di rumah dengan mencelupkan ke air hangat. Namun, pada umumnya setelah 5-6x repetisi akan dilakukan evaluasi ulang apakah pasien sudah cukup dengan tatalaksana gips saja ataukah perlu ditambahkan pemanjangan tendon Achilles di tumit dengan cara bedah minimal invasif.
  • Setelah pemasangan gips dinilai sudah cukup berhasil, maka akan dilanjutkan dengan pemakaian sepatu Dennis-Brown. Sepatu ini adalah sepatu khusus untuk penderita kaki pengkor yang dihubungkan denganbar selebar bahu. Sepatu ini berguna untuk mempertahankan posisi kaki paska koreksi.
  • Pemakaian sepatu ini dipakai selama kurang lebih 3 bulan pertama setelah gips terakhir dilepas. Setelah itu anak harus memakai sepatu ini selama 12 jam pada malam hari dan 2-4 jam pada siang hari. Sehingga total pemakaian 14-16 jam dalam sehari sampai anak berusia 3-4 tahun.

Perawatan Gips di Rumah

  • Cek peredaran darah kaki setiap jam selama 6 jam pertama setelah gips dan selanjutnya 4 kali sehari. Tekan jari-jari secara lembut dan perhatikan kembalinya aliran darah. Jari-jari akan menjadi pucat dan jika aliran darah ke kaki masih baik, secara cepat kembali menjadi merah muda. Ini dinamakan “terisi“. Jika jari-jari gelap, dingin dan tidak terisi (dari putih ke merah muda), gips mungkin terlalu ketat. Jika hal ini terjadi, kembali ke dokter anda atau ke UGD setempat dan minta mereka untuk mengecek gipsnya. Jika anak anda memakai gips fiberglass, lepaskan gipsnya.
  • Perhatikan level ujung jari-jari dan ujung gips. Jika jari-jari kelihatan “melesak masuk“ ke dalam gips, kembali ke dokter anda atau klinik untuk dievaluasi.
  • Jaga gips supaya tetap bersih dan kering. Jika gips jadi kotor sebaiknya dilap dengan kain yang sedikit basah. Hindari paparan air dan jaga tetap kering.
  • Gips sebaiknya diletakkan di atas bantal (atau bantalan lembut) sampai kering dan keras. Dengan posisi bayi terlentang, letakkan bantal dibawah gips untuk elevasi tungkai sehingga bagian tumitnya keluar sedikit dari bantal. Hal ini mencegah tekanan di tumit yang dapat menyebabkan luka.
  • Cegah gips kotor dengan sering mengganti popoknya. Jaga ujung atas gips di luar popok untuk mencegah urin/feses masuk ke dalam gips. Popok sekali pakai dan popok dengan karet pinggang yang elastik sangat ideal.

Terapi Operatif

Terapi operatif bisa dilakukan melalui prosedur Transfer tendon tibialis anterior pada kasus relaps. Transfer dilakukan jika pasien telah berusia lebih dari 30 bulan dan mengalami relaps yang kedua kalinya. Indikasinya adalah posisi kaki yang persisten dan sulit untuk dilakukan koreksi.

Pencegahan pada kaki pengkor sulit untuk dilakukan karena faktor genetik sangat dominan sehingga biasanya deteksi dini dan peran aktif orang tua sangat diperlukan karena kelainan kaki pengkor dapat diikuti dengan cacat bawaan di tempat lain terutama yang sifatnya sindromik dan multipel pada organ-organ lain, seperti kepala, wajah, perut, dan tulang belakang.

Kontributor :

KSM Orthopaedi & Traumatologi, RSUP Dr. Sardjito

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.