Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

MYOPIA BOOMING

Enam puluh tahun yang lalu, 10-20% dari penduduk Cina menderita myopia. Di dekade ini, hingga 90% dari remaja dan dewasa mengalami myopia. Di Seoul, tercatat 96,5% dari pria berusia 19 tahun yang menderita myopia. Bagian lain di dunia juga telah mencatat peningkatan dramatis dalam kondisi yang terbaru yang mempengaruhi sekitara setengah dari orang dewasa di Amerika dan Eropa (dua kali lipat prevalensi setengah abad yang lalu). Oleh beberapa perkiraan, sepertiga dari populasi dunia (2,5 miliar orang) dapat menderita myopia pada akhir decade ini.

Pada penelitian yang dilakukan di Yogyakarta, kami mendapatkan angka kelainan refraksi yang cukup tinggi. Kami mengambil sampel 79 anak SD yang tinggal di perkotaan, 73 di pinggir kota, dan 160 anak di pedesaan. Dari seluruh sampel, ditemukan hanya 58% anak yang memiliki ketajaman visual yang normal. Sebanyak 41% anak lainnya menderita myopia (mata minus) dan 1% memiliki kelainan hipermetropia (mata plus). Dari keseluruhan penderita kelainan fraksi anak tersebut, sebanyak 21% anak menderita kelainan refraksi berat.

Selama bertahun-tahun, konsensus ilmiah menyatakan bahwa myopia sebagian besar disebabkan oleh gen. Studi pada 1960-an menunjukkan bahwa kondisi itu lebih umum diantara anak kembar identik secara genetik dari non-identik yang menunjukkan kerentanan yang sangat dipengaruhi oleh DNA. Upaya menemukan gen spesifik sekarang telah mencatat lebih dari 100 daerah dari genom untuk myopia. Tapi jelas bahwa bukan merupakan keseluruhan cerita. Satu dari tanda-tanda yang paling jelas berasal dari 1.969 studi orang Inuit di utara Alaska dengan gaya hidup yang berubah-ubah. Pada komunitas orang dewasa yang dibesarkan di komunitas terpencil, hanya 2 dari 131 memiliki mata rabun. Tapi lebih dari separuh anak-anak dan cucu-cucu mereka memiliki kondisi tersebut (perubahan gaya hidup). Perubahan genetik yang terjadi terlalu lambat untuk menjelaskan perubahan yang cepat ini.

Salah satu faktor resiko yang mungkin adalah pekerjaan membaca (book work). Ide ini muncul lebih dari 400 tahun yang lalu, oleh astronom Jerman dan ahli optic Johannes Kepler. Peningkatan myopia di abad modern  mencerminkan tren anak-anak di banyak negara yang menghabiskan lebih banyak waktu dalam membaca, belajar atau terpaku pada komputer dan smartphone. Hal ini terjadi terutama di negara-negara Asia Timur, dimana nilai sekolah yang tinggi menjadi sandaran pada kinerja pendidikan yang mendorong anak-anak untuk menghabiskan waktu lebih di sekolah dan studi mereka. Sebuah laporan terakhir dari Organization for Economic Co-operation and Development menunjukkan bahwa rata-rata anak usia 15 tahun di Shanghai sekarang menghabiskan 14 jam per minggu untuk pekerjaan rumah, dibandingkan dengan 5 jam di Inggris dan 6 jam di Amerika Serikat.

Pada awal 2000-an, ketika para peneliti mulai melihat kekhususan perilaku tertentu, yaitu waktu yang dihabiskan untuk membaca atau menggunakan computer, ternyata bukanlah menjadi kotributor utama untuk resiko myopia. Pada tahun 2007, Donald Mutti dan rekan-rekannya di Ohio State University College of Optometry di Columbus melaporkan hasil penelitian yang melacak lebih dari 500 orang, usia delapan dan Sembilan tahun di California. Tim meneliti bagaimana anak-anak menghabiskan hari-hari mereka, termasuk olahraga dan waktu yang dihabiskan di luar ruangan (outdoor). Setelah lima tahun, satu dari lima anak-anak menderita myopia. Faktor yang sangat terkait dengan risiko myopia adalah waktu yang dihabiskan di luar ruangan.

Kelainan refraksi yang tidak dapat ditangani dapat menimbulkan kecacatan yang disebut ambliopia. Ambliopia didefinisikan oleh para ahli sebagai gangguan perkembangan visual dimana mata gagal untuk mencapai ketajaman visual normal, bahkan dengan kacamata resep atau lensa kontak. Pada penelitian kami yang dilakukan di Yogyakarta, didapatkan angka ambliopia pada anak yang memiliki kelainan refraksi sebesar 10,12% di daerah perkotaan, 12,33% di daerah tepi kota, dan sebesar 4.75% di daerah pedesaan.

Angka yang tinggi di dunia dan di Yogyakarta mencerminkan perlunya kewaspadaan berbagai pihak terhadap problem kelainan refraksi. Faktor resiko yang menjadi akar dari permasalahan ini beberapa dapat dicegah ataupun diminimalisir dengan adanya pengetahuan yang memadai mengenai myopia ataupun  kelainan refraksi lain. Dengan adanya pengetahuan yang memadai dari para praktisi kesehatan, diharapkan angka myopia dan kecacatan ketajaman visual lain dapat berkurang secara berkelanjutan. Ketajaman visual merupakan modal penting dalam masa depan anak-anak kita. Dengan kesehatan mata yang baik, lebih banyak pilihan lapangan pekerjaan bagi anak-anak kita nantinya, yang tentu saja akan berkaitan erat dengan kemandirian ekonomi dan sosial bagi keluarga-keluarga baru di masa depannya kelak.

Kontributor :

Prof. dr. Suhardjo SU, Sp.M(K)

 

 

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.