Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Vaksinasi Pada Dewasa

Setiap tahunnya hampir di seluruh penjuru dunia terdapat kematian pada orang dewasa akibat penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin yang menyebabkan beban kesehatan maupun ekonomi pada masyarakat. Imunisasi adalah salah satu upaya pencegahan yang sudah dikenali dan terbukti baik dalam menjaga kesehatan masyarakat. Namun demikian, angka kecakupannya tetap rendah dan terdapat gap yang lebar antara sasaran imunisasi dan realisasi di lapangan1.

Imunisasi dan vaksinasi seringkali dianggap sebagi sesuatu yang sama dan kerap kali tertukar penggunannya. Secara teknis imunisasi adalah induksi agar terbentuk suatu imunitas baik secara aktif ataupun pasif. Sementara vaksinasi menunjukan tindakan pemberian suatu vaksin. Oleh karena itu, vaksinasi belum tentu sebuah tindakan imunisasi dan imunisasi dapat pula tidak melibatkan vaksin2.

Pemberian vaksinasi memperhatikan beberapa hal penting yang dikenal dengan singkatan HALO (Health Age Lifestyle Occupation). Health, adalah memperhatikan kondisi kesehatan pasien yang akan divaksinasi tentanng adakah penyakit kronik yang mendasari pemberian vaksinasi tertentu semisal pemberian vaksin pneumonia dan influenza pada penderita asma, atau justru sebaliknya adakah kondisi kesehatan yang menjadi pertimbangan pada pemberian vaksin seperti misalnya kondisi immunodefisiensi pada pasien dengan infeksi HIV atau pasien yang mendapatkan kemoterapi. Age, pada usia tertentu terdapat peningkatan komorbiditas untuk terinfeksi penyakit tertentu sehigga jenis vaksinasi yang akan diberikan dapat dipertimbangkan jenisnya. Semisal pada usia remaja yang rentan terhadap resiko terinfeksi HPV atau usia geriatri yang rentan untuk terjadinya infeksi paru. Lifestyle, gaya hidup mempengaruhi penentuan jenis vaksinasi yang akan diberikan. Bagi mereka yang gemar melakukan traveling, vaksinasi untuk mencegah penyakit yang menjadi endemi di negara tujuan  disarankan untuk diberikan di luar vaksinasi dasar. Occupation, beberapa jenis pekerjaan tertentu memiliki resiko lebih tinggi untuk terinfeksi penyakit yang dapat dicegah oleh vaksinasi, misalnya pekerja kesehatan di rumah sakit seharusnya mendapat vaksinasi yang dapat mencegah mereka terinfeksi kuman rumah sakit.

Saat ini terdapat  kurang lebih 15 vaksin yang direkomendasikan bagi orang dewasa antara lain vaksin influenza, diphtheria, tetanus, pertusis, varicella, human papiloma virus (HPV), zoster, mumps, measles, rubella, pneumonia, meningitis, hepatitis A, hepatitis B dan haemophilus influenza B. Masing- masing vaksin diberikan berdasarkan pertimbangan usia dan faktor resiko yang dimiliki3.

Semua orang dewasa dianjurkan untuk vaksinasi Influenza satu kali setiap tahun, dimana usia di atas 50 tahun sangat dianjurkan untuk memperoleh vaksinasi influenza. Saat ini di Indonesia terdapat vaksin influenza trivalent maupun quadrivalent yang mampu memberikan pertahanan terhadap penyakit influenza sepanjang tahun. Beberapa kondisi sangat dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi Influenza antara lain penderita penyakit kronis seperti gangguan sistem pernapasan kronik, penyakit ginjal kronik, gangguan kardiovaskular (gagal jantung, penyakit jantung koroner, sindroma koroner akut, hipertensi, aritmia, gangguan katup jantung, defek kongenital), diabetes melitus, imunokompromais (HIV/AIDS, kanker, dll.), kanker, anemia/hemoglobinopati serta kelompok resiko lain misalnya adanya obesitas morbid, lansia, karyawan/pekerja, tenaga kesehatan, perokok, pelancong (traveller), orang yang tinggal di panti jompo/tempat penampungan, calon jemaah haji/umrah dan ibu hamil (terutama pada masa pandemi)4.

Vaksinasi pneumonia diperuntukan bagi semua orang  berusia 50 tahun ke atas. Vaksinasi pneumonia dapat diberikan pada orang berusia 19 tahun ke atas dengan kondisi antara lain imunokompromais (immuno-defisiensi bawaan atau dapatan, HIV/AIDS, gagal ginjal kronis, sindroma nefrotik, leukemia, limfoma, Hodgkin disease, kanker, immunosupresi iatrogenik, pasien yang mendapatkan transplantasi organ, mieloma multipel), asplenia fungsional atau anatomis (sickle cell disease / kelainan hemoglobin lain), pasien dengan implan koklea, dan kebocoran cairan serebrospinal. Mereka yang termasuk dalam kelompok di atas dan belum pernah vaksinasi PPSV23, dianjurkan untuk vaksinasi 1 dosis PCV13 terlebih dulu yang dapat dilanjutkan dengan vaksinasi PPSV23 minimal 8 minggu setelah pemberian vaksin PCV13. Pada calon jemaah haji dan umrah perlu diperhatikan jadwal pemberian vaksin pneumonia agar  vaksinasi memberikan proteksi sebelum jemaah haji/umrah berangkat. Bila sebelumnya sudah pernah vaksinasi PPSV23, berikan vaksin PCV13 dengan jeda minimal 1 tahun setelah pemberian vaksin PPSV235.

Vaksinasi hepatitis B diperuntukan bagi orang dewasa tanpa terkecuali dengan sebelumnya dianjurkan untuk memeriksa HbsAg terlebih dahulu. Perhatian khusus harus diberikan kepada kelompok risiko tinggi seperti tenaga kesehatan, pengguna narkoba, orang dengan partner seksual multipel, kondisi imunokompromais, pasien dengan gangguan hati kronik, dan pasien dengan gangguan ginjal kronik termasuk yang sedang hemodialisis. Khusus pada  individu imunokompromais atau pasien hemodialisis, diberikan vaksin 2 dosis (2 x 20ug/ml) setiap kali penyuntikan pada bulan 0, 1, 2, dan 6. Pada individu imunokompeten, tidak ada rekomendasi untuk memberikan dosis penguat (booster). Pada individu imunokompromais, pemeriksaan titer antibodi anti-HbsAg pasca vaksinasi dilakukan secara berkala (booster diberikan bila titer <= 10 mIU/mL). Perlu diingat terdapat fenomena responder dan nonresponder pada pemberian vaksinasi hepatitis B sehingga perlu dievaluasi pembentukan antibodi seteleh program vaksinasi dilakukan. Pada individu imunokompeten, pemeriksaan titer antibodi anti-HbsAg pasca vaksinasi dilakukan pada 1-3 bulan setelah vaksinasi terakhir (protektif bila titer >= 10 mIU/mL). Pemeriksaan yang dilakukan lebih dari 6 bulan pasca vaksinasi kurang memiliki manfaat dan dapat menimbulkan kesalahan interpretasi6.

Vaksinasi hepatitis A ini dianjurkan pada semua kelompok usia terutama mereka yang tinggal di daerah endemik hepatitis A. Pemberian vaksin hepatis A juga sangat dianjurkan bagi mereka yang memiliki hobi melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Saat ini tersedia, vaksin kombinasi Hepatitis A dan Hepatitis B. Selain lebih ekonomis, kesempatan untuk meningkatkan cakupan imunisasi lebih besar7.

Pemberian booster Vaksin Tetanus, Difteri, Pertusis (Td/Tdap) sangat penting sehubungan dengan wabah Difteri yang terjadi di beberapa daerah dan waning immunity pascavaksinasi Pertusis. Orang dewasa menggunakan Vaksin Td/Tdap, yang merupakan vaksin DTP dengan reduksi antigen Difteri dan Pertusis. Tdap menggunakan komponen pertusis aseluler (bukan whole-cell), sehingga kurang reaktogenik. Untuk mencegah Tetanus Neonatorum, status imunisasi Tetanus bagi WUS (Wanita Usia Subur) dan calon pengantin perempuan juga harus diperhatikan.8.

Sedangkan Vaksin Varicella merupakan vaksin hidup. Semua orang dewasa yang tidak terbukti pernah mengalami cacar air atau tidak memiliki kekebalan terhadap varicella dianjurkan untuk vaksinasi. Manifestasi klinis cacar air pada orang dewasa umumnya lebih berat daripada anak-anak. Vaksinasi varicella sangat dianjurkan bagi tenaga kesehatan. Varicella dapat menyebabkan cacat janin bila infeksi primer terjadi pada trimester pertama kehamilan sehingga dianjurkan diberikan sebelum menikah/hamil. Dalam hal ini diperlukan waktu minimal 4 minggu untuk boleh hamil setelah vaksinasi terakhir dikarenakan vaksin varicella merupakan vaksin hidup sehingga kontraindikasi untuk diberikan kepada ibu hamil9.

 

Vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV) untuk perempuan dapat menggunakan vaksin HPV bivalent atau quadrivalent. Waktu pemberian terbaik untuk memperoleh efektivitas maksimal adalah usia 9-26 tahun dan/atau sebelum aktif secara seksual. Vaksin HPV dapat diberikan hingga usia 55 tahun. Vaksinasi tidak menggantikan Pap Smear (yang tetap harus dilakukan minimal setiap 3 tahun). Vaksin HPV tidak direkomendasikan untuk ibu hamil. Pada laki-laki, vaksin HPV  hanya menggunakan vaksin HPV quadrivalent. Untuk usia 13-21 tahun, vaksin diberikan kepada semua individu. Untuk usia vaksin terutama diberikan kepada individu homoseksual yang belum vaksin10.

Berikan 1 dosis vaksin Zoster kepada semua individu berusia 50  tahun ke atas, dengan atau tanpa episode Zoster sebelumnya. Vaksin Zoster merupakan vaksin hidup sehingga harus hati-hati diberikan pada individu immunokompromise11.

Vaksin Measles Mumps Rubella (MMR) merupakan vaksin hidup sangat dianjurkan bagi tenaga kesehatan, pelancong, dan orang yang tinggal di asrama/ lingkungan padat, dan saat terjadi wabah MMR diberikan 1-2 kali, dosis kedua diperlukan karena 2-5% populasi normal tidak merespons 1 dosis MMR. Vaksin MMR dapat mencegah sindroma Rubella Kongenital yang dapat diberikan kepada perempuan sebelum menikah/hamil dimana diperlukan waktu minimal 4 minggu untuk boleh hamil setelah vaksinasi terakhir. Vaksin ini tidak dianjurkan diberikan kepada ibu hamil12.

Masih terdapat banyak tantangan dalam vaksinasi bagi orang dewasa. Rendahnya angka vaksinasi pada orang dewasa menggambarkan rendahnya pengetahuan mengenai vaksinasi dewasa baik bagi masyarakat maupun tenaga kesehatan, rendahnya kemampuan ekonomi masyarakat, serta kurangnya peran serta pemerintah dalam pelaksanan vaksinasi dewasa. Tantangan tersebut tentu saja menjadi pekerjaan kita semua untuk mensukseskan Indonesia yang lebih sehat13.

Kontributor :

Deshinta Putri Mulya, M.Sc, SpPD, KAI, FINASIM

KSM Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Daftar Pustaka

  1. Litjen Tan , 2015, Adult Vaccination : Now is the time to realize an unfulfile potential, in Human Vaccines & Immunotherapeutics 11:9, 2158–2166; September 2015; Published with license by Taylor & Francis Group, LLC
  2. Satgas Imunisasi Dewasa, 2017, Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa editor Samsuridjal Djauzi, Iris Rengganis, Julitasari Sundoro, Sukamto Koesnoe, Gatot Soegiarto, Suzy Maria. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  3. Advisory Committee on Immunization Practices. Vaccine recommendations of the ACIP. Centers for Disease Control and Prevention [serial online] 2014; http://www.cdc.gov/vaccines/hcp/acip-recs/index.html Accessed June 12, 2014.
  4. Samsuridjal, Sukamto Koesnoe, 2017, Influenza, dalam Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa editor Samsuridjal Djauzi, Iris Rengganis, Julitasari Sundoro, Sukamto Koesnoe, Gatot Soegiarto, Suzy Maria. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  5. Anna Uyainah, Kuntjoro Hari murti, Irwin Tedja, 2017. Pneumonia, dalam Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa editor Samsuridjal Djauzi, Iris Rengganis, Julitasari Sundoro, Sukamto Koesnoe, Gatot Soegiarto, Suzy Maria. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  6. Irsan Hasan, Putra Nur Hidayat, 2017,Hepatitis B, dalam Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa editor Samsuridjal Djauzi, Iris Rengganis, Julitasari Sundoro, Sukamto Koesnoe, Gatot Soegiarto, Suzy Maria. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  7. Irsan Hasan, Putra Nur Hidayat, 2017,Hepatitis A, dalam Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa editor Samsuridjal Djauzi, Iris Rengganis, Julitasari Sundoro, Sukamto Koesnoe, Gatot Soegiarto, Suzy Maria. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  8. Julitasari Sundoro, Erwanto Budi Winulyo, 2017, Tetanus dan Difteri, dalam . Irsan Hasan, Putra Nur Hidayat, 2017,Hepatitis B, dalam Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa editor Samsuridjal Djauzi, Iris Rengganis, Julitasari Sundoro, Sukamto Koesnoe, Gatot Soegiarto, Suzy Maria. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  9. Teguh Karyadi, 2017, Varicela Zoster, dalam Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa editor Samsuridjal Djauzi, Iris Rengganis, Julitasari Sundoro, Sukamto Koesnoe, Gatot Soegiarto, Suzy Maria. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  10. Samsudridjal Djauzi, Iris Renggnais, Alisa Nurul Muthia, 2017, Human Papillomavirus, dalam Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa editor Samsuridjal Djauzi, Iris Rengganis, Julitasari Sundoro, Sukamto Koesnoe, Gatot Soegiarto, Suzy Maria. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  11. Heru Sundaru, Iris Rengganis, Arif Sejati, Alisa Nurul Muthia, 2017, Herpes Zoster, dalam Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa editor Samsuridjal Djauzi, Iris Rengganis, Julitasari Sundoro, Sukamto Koesnoe, Gatot Soegiarto, Suzy Maria. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  12. Julitasari Sundoro, Erwanto Budi Winulyo, Measles, Mumps, dan Rubella, 2017, dalam Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa editor Samsuridjal Djauzi, Iris Rengganis, Julitasari Sundoro, Sukamto Koesnoe, Gatot Soegiarto, Suzy Maria. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  13. Shen AK, Bridges CB, Tan L. The first national adult immunization summit 2012: implementing change through action. Vaccine 2013; 31:279-84; PMID:23174197; http://dx.doi.org/10.1016/j. vaccine.2012.11.033
Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.