Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
HEADER1b
header kebiasaan baru new
GANTI SUITE ROOM
esc
slide_1200x500_call_center
early screening header web

Tantrum Pada Anak

Tantrum atau dalam istilah psikologi disebut sebagai “temper tantrum” diartikan sebagai perilaku marah pada anak-anak, biasanya terjadi pada usia pra sekolah (1 – 4 tahun). Anak mengekspresikan kemarahan dengan berteriak, memukul, menendang, menangis, tidak mau beranjak dari tempat tertentu, berguling – guling, menjatuhkan diri ke lantai, bahkan menyakiti diri sendiri. Umumnya, tantrum merupakan ekspresi frustrasi dari anak karena keterbatasan dan ketidakmampuan mereka dalam mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya. Bisa juga anak merasa orang tua tidak peduli dengan kebutuhannya, tidak mau mendengarkan dan tidak memahami keinginannya, sehingga di puncak frustrasinya anak pun “mengamuk”.

Saya punya contoh salah satu kasus yang pernah saya tangani, ada seorang ibu separuh baya yang mengeluhkan perilaku anak ke empatnya (bungsu) sering marah – marah jika ada sesuatu yang tak berhasil ia dapatkan. Si anak akan mengamuk, berteriak, menangis dengan suara yang melengking, berguling – guling bahkan memukul dirinya sendiri. Tak peduli waktu dan tempat, tiap kali keinginannya tidak dipenuhi maka si anak akan menunjukkan perilaku yang sama berulang kali. Hal tersebut seringkali membuat sang ibu, ayah dan kakak – kakaknya mengalah dan selalu memberikan apa yang diinginkan anaknya tersebut. Alasan ibu dan semua anggota keluarga pada akhirnya mengalah adalah karena malu dengan pandangan orang-orang sekitar yang memperhatikan kejadian itu.

Suatu hari mereka sekeluarga pergi ke salah satu pusat perbelanjaan, anak bungsunya meminta ice cream, tapi dilarang oleh sang ibu dengan alasan anaknya sedang batuk pilek, kemudian si anak langsung menangis, berteriak, berguling-guling di lantai, bahkan saat digendong, anaknya memukul secara bertubi-tubi. Sang ibu merasa orang-orang di sekitar memperhatikan dan seolah-olah menyalahkannya karena tidak membelikan ice cream untuk anaknya. Akhirnya untuk kesekian kalinya sang ibu mengalah dan membelikan anaknya ice cream supaya diam. Hal ini berlangsung sejak lama, awalnya sang ibu berpikir perilaku tersebut akan hilang dengan sendirinya jika keinginan anaknya dipenuhi, tapi kenyataannya perilaku tersebut semakin menjadi bahkan frekuensi munculnya semakin meningkat.

Itulah uniknya, semakin dipenuhi keinginan anaknya maka perilaku tantrum akan semakin berkembang bahkan levelnya bisa semakin meningkat. Dalam hal ini bisa jadi anak berpikir dengan perilaku tantrum ia bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan. Oleh karena itu, orang tua perlu belajar untuk mengatasi perilaku tantrum pada anak agar tidak menjadi kebiasaan dan pembesaran sifat pada anak. Dalam hal ini orang tua harus mampu membimbing dan mengajarkan cara yang baik agar anak mampu bersikap positif dan mampu berkomunikasi secara efektif dengan orang tua dan lingkungannya. Ada beberapa cara untuk mengatasi perilaku tantrum pada anak, diantaranya adalah orang tua harus tetap tenang, jangan terpancing dengan kemarahan anak, jangan pula balas berteriak, memaksa anak atau adu kekuatan dengan anak. Hal tersebut memang tidak mudah dilakukan, tapi jika anda terpancing justru membuat perilaku tantrum anak semakin menjadi. Penyebab tantrum pada anak bermacam – macam, ada yang tidak mampu mengekspresikan emosinya, ada yang karena gagal mengambil mainan atau barang yang diinginkan, ada pula karena tidak dapat mengkomunikasikan kebutuhan, dan lain – lain. Dengan mengetahui penyebabnya, tantrum bisa dicegah dan dapat memperpendek rentang waktunya.

Saat perilaku tantrum muncul, cobalah alihkan perhatian anak pada hal lain yang lebih menarik, misalnya mengajaknya bermain ke halaman rumah, mengambil mainan yang sudah lama tidak disentuhnya, bermain bersama saudaranya, mengambil jajanan kesukaannya atau aktivitas – aktivitas lain yang dapat mengganti suasana menjadi lebih baik. Bila tantrum terjadi di tempat umum atau keramaian, tinggalkan anak di tempat yang aman, awasi dia dari kejauhan, tapi jangan memberikan respon apapun, pasang wajah datar atau wajah tembok sampai anak lelah dan perilaku tantrumnya mereda. Abaikan tatapan mata dari orang – orang sekitar karena mereka tidak memahami kondisi anak anda sebenarnya. Jika Anda mencoba menghentikan tantrum anak dengan memenuhi keinginannya justru akan membuat anak anda belajar memanfaatkan tantrum sebagai cara untuk memanipulasi anda dan hal tersebut bisa terjadi terus menerus hingga ia dewasa. Tunjukkan padanya bahwa anda mencintai mereka tapi tidak dengan perilaku tantrum yang mereka tampilkan. Anda harus bertahan untuk tidak memenuhi keinginannya. Selain itu, jangan pernah berteriak, mencubit, memukul atau memberikan hukuman secara fisik kepada anak saat memunculkan perilaku tantrum. Reaksi negatif seperti ini akan memperburuk perilaku tantrum dan akan menimbulkan kemarahan mendalam pada anak. Jika tantrum sudah mereda, peluklah anak dengan pijatan lembut di sekitar punggungnya sambil katakan dengan tegas dan jelas bahwa Ia tidak akan mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cara demikian dan sampaikan alasan dengan jelas mengapa keinginannya tidak dapat segera dipenuhi saat ini.

Kontributor :

Agus Fitria, S. Psi, Psikolog

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.