Fax:(0274) 565639    humas@sardjitohospital.co.id
Emergency (0274) 583613    1500 705 (Contact Center)   

Simposium Handling A Good Quality Care of Chronic Kidney Disease Patient di RSUP Dr. Sardjito

YOGYAKARTA – Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) menggelar acara Simposium Handling A Good Quality Care of Chronic Kidney Disease (CKD) yang bertempat di Ruang Utama Gedung Diklat Lantai 4 RSUP Dr. Sardjito, Kamis (14/3). Acara dalam rangka peringatan Hari Ginjal Sedunia yang ke 14 sejak mulai dikampanyekan pada tahun 2006 ini dibuka oleh Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka KGPAA Pakualaman X dan dihadiri oleh jajaran direksi RSUP Dr. Sardjito. Prosesi pembukaan acara dilakukan secara simbolis dengan memukul gong, lalu dilanjutkan dengan prosesi potong tumpeng yang kemudian diberikan kepada Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito, Dr.dr. Darwito, SH., Sp.B.Onk. Dalam acara yang bertajuk ”Kesehatan Ginjal, Untuk Siapapun, Dimanapun”, Dr.dr. Darwito, SH., Sp.B(K)Onk mengemukakan bahwa siapapun bisa mencegah terkena penyakit ginjal dengan pola hidup yang sehat dan masyarakat tidak perlu khawatir terkait biaya yang akan dikeluarkan untuk keperluan operasi cangkok ginjal karena saat ini sudah bisa dijamin dengan menggunakan BPJS sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain itu, Gubernur DIY pun turut mengajak masyarakat untuk menjaga kesehatan ginjal melalui keynote speech yang disampaikan oleh Wakil Gubernur DIY.

Ginjal merupakan organ vital di tubuh yang berfungsi menyaring zat limbah dari darah lalu mengeluarkannya melalui urine dan mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit. Namun, ginjal yang telah rusak tidak bisa melakukan proses tersebut. Hasilnya, zat limbah dapat menumpuk di tubuh dan jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi mengancam jiwa. Menurut data, setidaknya ada sekitar 850 juta orang di dunia ini diperkirakan menderita penyakit ginjal oleh berbagai macam penyebab. Penyakit Ginjal Kronis (PGK) menyebabkan 2,4 juta kematian per tahun dan menjadi penyebab kematian ke-6.     Di Indonesia, prevalensi penyakit ginjal kronik pada populasi di atas usia 15 tahun dalam 5 tahun terakhir, mengalami kenaikan hampir 2 kali lipat, yaitu sebesar 3,8 orang per 1000 penduduk pada tahun 2018.

Dalam keadaan penyakit ginjal tahap akhir, fungsi pembuangan limbah, pengaturan cairan dan elektrolit harus digantikan dengan metode pengobatan yang dinamakan terapi pengganti ginjal. Ada 3 terapi metode terapi pengganti ginjal yang kita kenal, yaitu hemodialisis/ cuci darah, dialisis peritoneal/ cuci perut dan transplantasi ginjal. Transplantasi ginjal merupakan pilihan terbaik dari 3 pilihan yang ada. Transplantasi ginjal dapat dilakukan baik dari donor ginjal yang hidup ataupun dari donor yang sudah meninggal. Pada saat ini, transplantasi ginjal di Indonesia baru melayani transplantasi ginjal dengan donor hidup. Transplantasi merupakan penyakit ginjal tahap akhir yang paling hemat biaya, namun membutuhkan infrastruktur yang kompleks dan tim khusus, ketersediaan donor dan fasilitas dialisis. Persyaratan infrastruktur dan aspek legal hukum serta bias budaya terhadap donasi organ, sering menimbulkan hambatan di banyak negara, menjadikan dialisis sebagai opsi pertama. Sementara pasien hemodialisis harus menjalani prosedur ini sepanjang hidupnya, sebagai bentuk terapi pengganti ginjal yang sudah tidak dapat berfungsi secara normal. Penyakit ini terutama pada tahap lanjut, sangat mengganggu kehidupan, aktivitas pekerjaan sehari-hari serta kualitas hidup penderitanya, padahal penyakit ginjal kronik merupakan penyakit katastropik nomor 2 yang paling banyak menghabiskan biaya kesehatan setelah penyakit jantung.

Penyakit ginjal kronik sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan dengan beban biaya kesehatan yang tinggi. Namun, penyakit ini dapat dicegah dengan melakukan upaya pencegahan, pengendalian dan tata laksana penyakit dasar seperti hipertensi, diabetes mellitus dan menghindari penggunaan obat-obatan atau zat-zat nefrotoksik/berpotensi merusak ginjal. Di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Pemerintah beserta seluruh pemangku kepentingan serta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memudahkan perawatan pasien penyakit ginjal kronik tahap akhir dengan menanggung beban biaya dialisis.

Tahun 2019 ini, Hari Ginjal Sedunia ditetapkan untuk meningkatkan kesadaran akan tingginya beban penyakit ginjal di seluruh dunia dan perlunya strategi untuk pencegahan dan manajemen penyakit ginjal. ”Kesehatan Ginjal, Untuk Siapapun, Dimanapun” menyerukan perlindungan kesehatan secara universal/ Universal Health Coverage (UHC) untuk pencegahan dan pengobatan dini penyakit ginjal. Selain itu, sebagai momentum untuk melakukan serangkaian aktivitas bermanfaat, dengan tujuan yang baik, bersama-sama  meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan individu dan masyarakat terutama kesehatan ginjal, serta mendorong terwujudnya layanan kesehatan berkualitas yang terjangkau bagi seluruh masyarakat. (/VM)

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.

Pengaduan anda, akan diajukan kemana?

KemenkesKemenpan