Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Tingkatkan Kesadaran Akan Kebutaan Kornea dan Uvea

Kebutaan kornea merupakan reversible blindness, dalam hal ini apabila pasien dengan kebutaan kornea dilakukan tindakan pencangkokan kornea, pasien tersebut kemungkinan dapat melihat kembali. Namun demikian, hal tersebut belum dapat dilakukan secara optimal karena terkendala jumlah donor kornea yang kurang memadai. Kebutaan kornea seringkali diawali dengan infeksi kornea yang berat. Infeksi kornea yang berat ditandai dengan peluruhan kornea (corneal melting) yang luas dan adanya nanah pada bilik mata depan (hipopion), bahkan terkadang kornea yang terinfeksi tersebut hampir jebol (impending corneal perforation). Penyebab terjadinya infeksi kornea ini bermacam-macam, mulai dari bakteri, virus maupun parasit. Kondisi infeksi kornea tersebut adalah kondisi gawat darurat yang harus segera dilakukan tata laksana secara adekuat. Namun demikian, pasien terkadang kurang taat dalam meneteskan obat karena beberapa obat harus diteteskan secara berkala, misalnya setiap 6 menit sekali, yang mengakibatkan dosis terapi kurang mencukupi.

Infeksi kornea relatif lebih sering terjadi pada orang-orang pedesaan yang mengalami trauma kornea, orang-orang dengan kekebalan tubuh yang kurang baik, misalnya penderita diabetes melitus dan usia lanjut, maupun pengguna lensa kontak yang kurang memperhatikan kebersihan dalam memakai lensa kontak. Kebutaan kornea juga dapat disebabkan oleh kondisi non infeksi, misalnya kekeruhan kornea akibat faktor bawaan atau distrofi kornea yang merupakan adanya penumpukan substansi metabolik abnormal pada epitel, stroma, atau endotel kornea yang sering terjadi secara bilateral dan berkembang secara progresif lambat maupun keratokonus dimana bentuk kornea terlihat seperti kerucut yang ditandai dengan penurunan tajam penglihatan akibat sering mengganti lensa kontak atau kacamata.

Kebutaan juga dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit infeksi pada mata bagian dalam (uveitis), baik karena infeksi bakteri, virus, maupun faktor bawaan yang sering kali terkait dengan kelainan-kelainan tubuh yang lain. Sayangnya, penyakit-penyakit tersebut cukup sulit dalam tata laksananya dan terkadang berakhir dengan kebutaan. Diagnosis dan tata laksana penyakit-penyakit kornea dan uveitis yang baik tentunya dapat meminimalisir kejadian kebutaan kornea dan uvea. Selain itu, diperlukan kesadaran yang tinggi dari para penderita kelainan ataupun penyakit kornea dan uveitis untuk segera berobat ke dokter mata jika mengalami penurunan tajam penglihatan. Edukasi preventif dan promosi kesehatan serta deteksi dini penyakit merupakan investasi di bidang kesehatan.

 

Kontributor :

Prof. dr. Suhardjo, SU, Sp.M(K)

KSM Kesehatan Mata – RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.