Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
HEADER1b
header kebiasaan baru new
GANTI SUITE ROOM
esc
slide_1200x500_call_center
early screening header web

Upaya Membangun Komitmen dan Kekompakan Kerja Melalui Pendekatan Neurolinguistik

Satuan kerja merupakan suatu organisasi yang memiliki aktivitas kerja yang tidak berdiri sendiri namun berdiri atas dasar bagian-bagian individu yang unik dan spesifik dengan berbagai kelebihan serta kekurangannya. Manakala terbangun satu komitmen dan kekompakan kerja, maka kelebihan dan kekurangan dari masing-masing individu di dalamnya akan menjadi sinergi yang saling melengkapi. Membangun iklim kerja yang efektif merupakan karakter dan perilaku kerja yang menjadi kebiasaan serta kultur budaya organisasi. Adanya komitmen dan kekompakan kerja sangatlah penting dalam membangun sebuah kegiatan dalam suatu organisasi. Perkembangan sebuah kegiatan sangat dipengaruhi oleh komitmen dan kekompakan kerja yang ada dalam organisasi tersebut. Semakin solid individu yang mendukung sebuah kegiatan, maka akan semakin besar pula peluang sukses yang dimiliki kegiatan tersebut. Demikian pula juga sebaliknya, bila individu dalam organisasi tersebut tidak solid dan bekerja sendiri-sendiri, bisa dipastikan kegiatan tersebut tidak bisa bertahan lama menghadapi persaingan yang selalu meningkat setiap harinya.

Salah satu cara dalam membangun komitmen dan kekompakan kerja dalam suatu organisasi adalah melalui pendekatan neurolinguistik. Neurolinguistik merupakan bidang ilmu Linguistik interdisipliner yang tercakup dalam bidang makrolinguistik, yaitu lahir dari dua bidang ilmu yang bekerja sama, yakni Neurologi dan Linguistik. Objek kajian Neurologi adalah anatomi otak manusia (susunan saraf otak) manusia. Adapun objek kajian Linguistik adalah bahasa. Bahasa bersumber dari pikiran dan pikiran dapat mempengaruhi bahasa, oleh karenanya melahirkan fenomena kebahasaan yang berdampak pada sikap dan perilaku positif atau negatif.1Yel-yel merupakan satu pendekatan neurolinguistik yang dipilih dalam upaya peningkatan mutu kinerja di lingkungan rumah sakit.

Yel-yel berasal dari bahasa inggris yaitu yell berarti teriakan yang keras (loudshout).2 Yel-yel yaitu semacam artefak berupa teriakan dengan kata-kata tertentu yang bermakna semangat untuk maju.3Pada umumnya yel-yel berisi kata-kata pembangkit semangat atau motivasi. Metode ini merupakan bentuk upaya guna memprogram/membangun ujaran-ujaran yang baik atau positif yang kemudian ditransformasikan ke dalam bahasa otak.1

Secara keseluruhan, yel-yel dapat memberikan motivasi bagi seluruh civitas hospitalia agar senantiasa siap untuk melayani dengan hati, berfokus pada pelayanan yang cepat, akurat, dan teliti dengan terus menjaga semangat dalam mengemban tugas, tanggung jawab, dan kewajiban tersebut. Kata “motivasi” berasal dari bahasa Latin yaitu movere yang dalam bahasa inggris berarti tomove yang merupakan kata kerja yang berarti menggerakkan. Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi)seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan rutin mengulang mengucapkan yel-yel motivasi ini diharapkan akan terjadi perubahan energi dalam diri (pribadi)seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untukmencapai tujuan.4

Melalui pendekatan neurolinguistik berupa yel-yel, masing-masing individu di satuan kerja senantiasa mengingat identitas diri (self-identity) sebagai bagian dari rumah sakit. Identitas diri seorang individu, kecenderungan sosial dan perilaku individu bisa mempengaruhi pembentukan identitas sosial, emosi kelompok, suasana hati (mood) kelompok, dan akhirnya membentuk kecerdasan emosional. Identitas diri adalah cara-cara seseorang dalam mendefinisikan siapa dia sebagai individu unik dalam membina hubungan, sedangkan identitas sosial (socialidentity) dikembangkan dari interaksi individu dengan kelompoknya yang saling mempengaruhi. Berikutnya, emosi-emosi personal bisa naik menjadi emosi kelompok. Suasana hati kelompok (groupmood) adalah perkembangan alamiah dari emosi kelompok. Emosi bersifat tidak tetap, cepat, dan reaktif; sedangkan suasana hati masih membekas dalam periode waktu tertentu. Terakhir, kecerdasan emosional adalah keadaan dimana individu belajar tidak hanya mengobservasi dan meniru tetapi juga memanfaatkan dan mengendalikan emosi tim dalam rangka membantu proses-proses dalam pikiran mereka. Kepercayaan paripurna dibutuhkan dalam tahapan emotionalintelligence. Yel-yel diharapkan mampu untuk mewujudkan tahapan dalam hierarki pengembangan sosial dan keperilakuan ini.5 

Membangun komitmen dan kekompakan kerja merupakan langkah penting dalam penyelenggaraan kegiatan pelayanan dalam satu organisasi besar seperti rumah sakit. Namun, untuk menciptakannya di tengah lingkungan kerja bukanlah perkara yang mudah karena harus menyatukan sifat dan karakter dari setiap individu yang berbeda menuju satu tujuan yang sama. Hal ini membutuhkan tenaga, strategi dan waktu yang tidak sebentar. Dengan keterampilan membangun tim yang baik, salah satunya melalui pendekatan neurolinguistik berupa yel-yel, maka hal ini diharapkan dapat menyatukan tujuan bersama dan menghasilkan produktivitas kerja yang lebih besar.

 Kontributor :

Andaru Dahesih Dewi, Ambarsari Kusuma Ningtyas

Instalasi Laboratorium Klinik RSUP Dr. Sardjito

DAFTARA PUSTAKA

  1. Elfiky, Ibrahim, Dr. 2007. Terapi NLP (Neuro – LinguisticProgramming). Cet.II. Jakarta: Hikmah.
  2. Oxford learner’spocketdictionary, (Oxford University Perss,1995), h.481.
  3. http://srasyid.wordpress.com/category/motivasi/
  4. Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta, PT Bumi Aksara, 2001), h.158.
  5. Adam, Susan L. &Anantatmula, Vittal. 2010. Socialandbehavioralinfluencesonteamprocess. Project ManagementJournal, Vol. 41, No. 4, pp. 89-98.
Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.