Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Makna Puasa Dari Sudut Pandang Gastroenterologi, Halangan atau Bermanfaat ?

Bagi umat muslim, menjalankan ibadah puasa Ramadhan merupakan suatu kewajiban. Hanya orang-orang dengan kondisi tertentu saja yang diperbolehkan tidak berpuasa atau bahkan dilarang berpuasa. Menjalankan ibadah ini bukan berarti diperbolehkan bermalas-malasan, namun produktifitas dalam bekerja harus tetap dijaga meskipun tubuh lemas karena menahan lapar dan dahaga. Puasa sering dianggap beresiko terhadap kesehatan perut atau lambung, benarkah demikian? Menurut dr. Putut Bayu Purnama, Sp.PD.KGEH pada dasarnya harus dibedakan menjalankan puasa antara orang yang sehat atau berkondisi fit/bugar dengan orang yang sedang sakit. Pada orang-orang yang bertubuh fit kewajiban berpuasa seharusnya dijalankan sesuai dengan tuntutan dalam agama Islam karena dari sisi kesehatan tidak ada halangan. Sedangkan bagi orang yang sedang mengalami gangguan kesehatan sebetulnya diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Namun, jika pasien menghendaki berpuasa diperbolehkan asal telah berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Jika kondisi memungkinkan, tentunya dokter akan memperbolehkan dengan perlakuan yang disesuaikan, misalnya memberikan jadwal minum obat atau terapi selama puasa.

Pada hari pertama berpuasa, tentu saja sistem pencernaan kita kembali beradaptasi. Hal ini dapat memicu munculnya beberapa masalah pencernaan yang umumnya disebabkan kebiasaan makan saat tiba waktunya berbuka maupun sahur. Makan terlalu banyak saat berbuka membuat kita melewatkan makan sahur karena perut masih merasa kenyang. Hindari makan malam yang berlebihan terutama makanan pedas dan asam agar tidak terkena maag. Masalah yang paling umum terjadi saat menjalani ibadah puasa adalah diare yang disebabkan oleh konsumsi makanan berlemak terlalu banyak sehingga sulit dicerna oleh lambung. Selain diare, jika perut terus diisi makanan dan minuman secara berlebihan, sistem pencernaan akan melambat dan menyebabkan kembung. Untuk mencegah perut kembung, makanlah secukupnya dan pilihlah jenis makanan yang tinggi serat. Makanan tinggi serat juga mencegah kita terserang konstipasi atau susah buang air besar. Selain itu, minum 8 gelas air putih setiap hari mulai buka puasa hingga sahur dapat menjaga tubuh kita agar tidak kekurangan cairan. Naiknya asam lambung atau GERD juga bisa kambuh saat menjalani ibadah puasa. Naiknya asam lambung bisa terjadi jika sesudah makan sahur maupun ketika setelah berbuka kita langsung tidur. Kondisi tidur atau berbaring akan memudahkan makanan, termasuk asam dari lambung naik tenggorokan. Untuk itu, hindari terlalu banyak konsumsi kopi dan makan sebelum tidur. Idealnya, makan terakhir adalah 2-3 jam sebelum tidur.

Terkait dengan pekerja/pegawai dengan kondisi bugar dalam menjalani ibadah puasa tentunya tidak memerlukan perlakuan khusus terhadap tubuh, hanya perlu sedikit penyesuaian saja. Sedangkan bagi pekerja yang mempunyai masalah dengan kesehatan, dr. Putut Bayu Purnama, Sp.PD.KGEH mengatakan bahwa tetap diperlukan konsultasi dengan dokter ahli selama menjalani puasa. Menurut pengalamannya, untuk pasien-pasien rawat jalan khususnya yang bermasalah dengan lambung dan mampu menjalankan ibadah puasa selama ini tidak ditemukan keluhan yang disebabkan selama menjalani ibadah puasa. Untuk menjaga kebugaran, bagi  yang terbiasa berolahraga tetap bisa melakukan olahraga ringan yang tidak memforsir fisik tubuh. Apabila dilihat dari jenis makanan, dr. Putut Bayu Purnama, Sp.PD.KGEH menyampaikan bahwa yang terpenting bagi orang berpuasa adalah kecukupan asupan gizi dan cairan. Khusus bagi orang yang mempunyai keluhan lambung pada dasarnya tidak ada pantangan terhadap suatu jenis makanan. Konsumsi makanan yang paling nyaman untuk kita namun jangan berlebihan. Jika terlalu banyak menghindari makanan, dikhawatirkan justru akan mengurangi asupan gizi dan cairan yang sangat diperlukan tubuh agar tetap fit.

Jadi, apakah puasa bermanfaat khususnya bagi orang dengan keluhan penyakit lambung? dr. Putut Bayu Purnama, Sp.PD.KGEH menegaskan bahwa puasa dengan cara tepat justru sangat bermanfaat untuk lambung karena lambung dapat “beristirahat” sementara waktu. Menurut pengalamannya selama ini, bagi pasien dengan maag fungsional (tidak ada kelainan di lambung), beliau menyatakan justru merasakan nyaman di lambung ketika menjalankan ibadah puasa, secara total pikiran akan menjadi lebih tenang dan damai. Kondisi ini membantu mengurangi gejala penyakit lambung karena penyakit lambung berkait erat dengan kondisi psikologis seseorang. Sejauh ini, puasa tidak membahayakan tubuh. Hal yang kita perlukan adalah mengenali tubuh kita sendiri. Kenali kebutuhan gizi dan cairan tubuh kita, kenali kondisi fisik tubuh kita, jaga pikiran kita lalu atur pola makan sesuai kebutuhan tubuh kita masing-masing.

Kontributor :

Putut Bayu Purnama, Sp.PD.KGEH

KSM Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

 

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.