Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
HEADER1b
header kebiasaan baru new
GANTI SUITE ROOM
esc
slide_1200x500_call_center
early screening header web

Pendekatan Psikosomatik Pada Pasien Paliatif dan Home Care

Jumlah pasien dengan penyakit yang belum dapat disembuhkan baik pada dewasa maupun anak-anak semakin meningkat. Pada stadium lanjut, pasien dengan penyakit kronis tidak hanya mengalami berbagai masalah fisik tetapi juga psikososial dan spiritual yang mempengaruhi kualitas hidup pasien dan keluarganya. Perawatan paliatif sebagai pendekatan interdisiplin diperlukan guna mewujudkan pemenuhan/pengobatan gejala fisik, serta pemberian dukungan psikologis, sosial dan spiritual. Perawatan Paliatif menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 812/MENKES/SK/VII/2007 merupakan pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa, melalui pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial dan spiritual.

Adapun prinsip dari perawatan paliatif di antaranya mengurangi rasa sakit dan gejala-gejala lain yang menyusahkan, menegaskan bahwa kehidupan dan kematian adalah proses normal, tidak ditujukan untuk mempercepat maupun menunda kematian, menggabungkan aspek psikologis dan spiritual dari perawatan pasien, menawarkan sistem pendukung untuk membantu pasien hidup secara aktif sebisa mungkin sampai meninggal, menawarkan sistem pendukung untuk membantu keluarga mengatasi kesukaran selama pasien sakit, menggunakan pendekatan dengan suatu tim meliputi dokter, perawat, ahli kejiwaan, pekerja sosial, dan relawan untuk memenuhi keperluan pasien dan keluarganya, termasuk konseling kehilangan apabila diperlukan, akan meningkatkan kualitas kehidupan, dapat secara positif mempengaruhi perjalanan penyakit serta dapat diterapkan dini pada perjalanan penyakit. Perawatan paliatif sendiri meliputi penatalaksanaan nyeri, penatalaksanaan keluhan fisik lain, asuhan keperawatan, dukungan psikologis, sosial, kultural dan spiritual serta dukungan persiapan dan selama duka cita (bereavement).

Bagi pasien paliatif, tempat yang tepat untuk melakukan perawatan paliatif dibagi menjadi beberapa fasilitas penyedia layanan kesehatan. Rumah sakit diperuntukkan bagi pasien yang harus mendapatkan perawatan yang memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus atau peralatan khusus. Puskesmas disediakan bagi pasien yang memerlukan pelayanan rawat jalan. Rumah singgah/panti (hopsis) bagi pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus atau peralatan khusus, tetapi belum dapat dirawat di rumah karena masih memerlukan pengawasan tenaga kesehatan. Sedangkan bagi pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus atau peralatan khusus atau ketrampilan perawatan yang tidak mungkin dilakukan oleh keluarga dapat dilayani di rumah pasien.

Gejala psikologis sangat umum dijumpai pada pasien dengan kondisi penyakit terminal. Salah satu peranan yang paling menantang dalam kedokteran psikosomatik adalah membantu pasien dengan penyakit terminal baik secara fisik, psikologik, dan spiritual selama perjalanan proses kematian. Beberapa bentuk sindrom psikologis pasien dengan penyakit terminal meliputi ansietas, depresi dan delirium. Ansietas dapat muncul pada hampir semua kondisi kelainan medis dan dapat pula sebagai efek samping berbagai pengobatan. Pada pasien dengan penyakit terminal akan muncul dengan gejala somatic seperti gelisah, hiperaktivitas, takikardia, gangguan pencernaan, mual, insomnia, sesak nafas, kebas atau tremor. Pasien cenderung merasa takut, khawatir, was-was atau murung dan akan memicu eksasebasi. Penanganan pasien cemas seringnya dengan terapi suportif, cognitive-behavioural techniques, dan modalitas komplementer seperti relaksasi dalam, meditasi, dan yoga. Selain ansietas, gejala depresi juga umum dijumpai pada pasien penyakit terminal dengan prevalensi antara 58%. Kriteria depresi pada pasien dengan penyakit terminal dapat dilakukan melalui anamnesis terstruktur dari DSM-V maupun dibantu dengan instrument-instrumen skrining seperti PHQ-2/9, Beck Depression Index (BDI)-II. Pengobatan farmakologis depresi sangat berguna baik saat diagnosis ditegakkan maupun sampai dengan hari-hari terakhir kehidupan. Berbeda dengan ansietas dan depresi, prevalensi delirium meningkat hingga 85% pada pasien dengan penyakit terminal dan kematian terkait dengan periode delirium dijumpai 75%-85% pasien. Pasien yang sering mengalami kondisi disorientasi, penurunan daya ingat, konsentrasi, dan menimbulkan perubahan dimana pasien menjadi sangat sakit. Klinisi harus waspada bahwa tanda awal dan ringan dari delirium sering disalahartikan sebagai depresi, ansietas maupun koping yang buruk.

Pendekatan psikosomatik sangat cocok diterapkan pada penanganan psikis pasien paliatif. Perawatan paliatif dan psikosomatik adalah bidang medis yang menekankan pada kualitas hidup pasien yang berfokus pada meringankan gejala serta memperbaiki fungsi. Sedangkan perawatan berbasis gejala pada pasien terminal diantaranya meliputi penanganan depresi, ansietas, delirium, nyeri, dan mual. Dalam hal ini, diperlukan penapisan depresi dan ansietas pada pasien dengan perawatan paliatif sehingga dapat segera ditangani lebih baik.

 

Kontributor :

Noor Asyiqah Sofia

Instalasi Paliatif, Geriatri dan Home Care

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

 

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.