Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Tata Laksana Perawatan Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan bayi risiko tinggi karena mempunyai kesakitan dan kematian lebih besar yang dikaitkan dengan kelahiran dan penyesuaian setelah lahir. Bayi  risiko tinggi lahir dari ibu dengan kehamilan risiko tinggi. Kehamilan resiko tinggi  adalah salah satu kehamilan yang di dalamnya kehidupan atau kesehatan ibu atau janin dalam bahaya akibat gangguan kehamilan yang kebetulan atau unik (Sarwono, 2010). Adapun keadaan yang tergolong dalam kehamilan resiko tinggi antara lain ketuban pecah dini, amnion tercampur mekonium, kehamilan preterm/postterm, toksemia, diabetes mellitus, primi muda, primi tua, hamil kembar, SC, vakum, adanya ketidakcocokan golongan darah / rhesus, hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal, penyakit epilepsi, Ibu demam /sakit, bayi sungsang, kecanduan obat, curiga ada kelainan bawaan dan komplikasi obstetri lainnya. Sedangkan bayi resiko tinggi merupakan bayi yang lahir di umur kehamilan 32 – 36 minggu / prematur, bayi dengan ibu yang mengidap Diabetes Mellitus, bayi dengan riwayat apnea, bayi dengan kejang, sepsis, asfiksia, bayi dengan gangguan perdarahan maupun gangguan nafas.

Bayi dengan BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Hal ini merupakan masalah utama di negara berkembang termasuk Indonesia yang menyebabkan meningkatkan angka kesakitan dan kematian bayi. Adapun penyebab BBLR adalah faktor maternal, faktor janin dan faktor plasenta. Faktor maternal doipengaruhi oleh penyakit kehamilan, trauma fisik dan psikologis, infeksi, maupun usia ibu hamil yang kurang dari 20 tahun. Sedangkan faktor janin dipengaruhi oleh hodramnion dan kehamilan kembar. Faktor plasenta dimana terdapat penyakit pembuluh darah, malformasi atau adanya tumor juga merupakan penyebab bayi lahir dengan BBLR. Gambaran bayi dengan BBLR antara lain kulit tipis/transparan/lunak seperti gelatin, lanugo banyak atau tidak ada sama sekali, lemak subkutan sedikit, pembuluh darah terlihat jelas pada abdominal, ariole belum terbentuk dan grandula tidak teraba, telinga lunak sehingga mudah ditekuk dan pinggir tidak berlekuk,  pada bayi laku-laki trstis tidak teraba sedangkan pada bayi perempuan labia minor menonjol, edema pada ekstremitas, lipat plantar halus, otot hipotonik, pernafasan belum teratur sehingga sering terjadi apnea, reflek hisap dan telan belum sempurna.

Masalah yang sering timbul pada kasus bayi dengan BBLR antara lain suhu tubuh yang tidak stabil, gangguan penafasan, gangguan pencernaan dan nutrisi, imaturitas hati, anemia, pendarahan intraventrikuler, kejang, infeksi, hipoglikemi, hiperglikemi serta hipokalsemi. Penanganan bayi dengan BBLR dilakukan secara komprehensive sejak sebelum kelahiran, selama persalinan hingga setelah lahir. Sebelum lahir, penanganan yang dilakukan adalah mencegah kelahiran kurang bulan. Pada saat persalinan, penanganan yang dilakukan adalah mempersiapkan petugas yang dilengkapi dengan alat pertolongan pernafasan. Sedangkan setelah kelahiran, hal yang dilakukan antara lain menjaga suhu lingkungan agar tetap hangat, salah satunya dengan perawatan metode kangguru; mempersiapkan oksigenasi; meminimalisir terjadinya infeksi dengan cuci tangan serta memberikan ASI sedini mungkin.

Bayi dengan BBLR membutuhkan penanganan khusus selama berada di lingkungan rumah sakit. Namun demikian, bayi diperbolehkan pulang apabila berat badan bayi cenderung meningkat  dan suhu tubuh stabil selama 3 hari berturut-turut dengan keadaan umum bayi telah dinyatakan baik oleh dokter.

Bagi bayi yang telah diperbolehkan pulang, pemantauan paska kerawatan masih dilakukan karena tidak jarang setelah selesai perawatan, bayi dirawat kembali. Pemantauan bayi paska perawatan dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan melakukan deteksi dini kelainan. Adapun hal-hal yang perlu dipantau antara lain keadaan umum bayi, suhu tubuh, asupan nutrisi/ASI, kenaikan berat badan, perawatan tali pusar dan kebersihan umum bayi. Tenaga kesehatan juga wajib  memberikan asuhan keperwatan dengan menjada suhu tubuh bayi agar tetap hangat, memberikan nutrisi/ ASI yang cukup, mencegah infeksi, kebersihan umum dan imunisasi, memberikan stimulasi sensorik dengan pijat bayi, stimulasi pendengaran dengan sering berkomunikasi dan stimulasi penglihatan dengan memperlihatkan benda berwarna-warni. Pemantauan jangka panjang bagi bayi dengan BBLR dilakukan dengan melakukan pemeriksaan pertumbuhan berat badan, penjang badan dan lingkar kepala; tes perkembangan; waspada adanya kelainan bawaan; pemeriksaan mata dan pendengaran.

Kontributor :

Wiji Triningsih

Perinotologi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.