Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Transplantasi Ginjal Sebagai Alternatif Bagi Penyakit Ginjal Kronis

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) di dunia saat ini mengalami peningkatan dan menjadi masalah kesehatan serius, data Global Burden of Disease tahun 2010, PGK merupakan penyebab kematian peringkat ke 27 di dunia tahun 1990 dan meningkat menjadi urutan ke 18 pada tahun 2010. Lebih dari 2 juta penduduk di dunia membutuhkan perawatan dengan dialisis atau transplantasi ginjal dan hanya sekitar 10% yang benar-benar memperoleh perawatan tersebut. Sepuluh persen penduduk di dunia mengalami PGK dan jutaan meninggal setiap tahun karena tidak mempunyai akses untuk pengobatan (NKUDIC., 2012). Di seluruh dunia, penyakit gagal ginjal kronis pada saat ini menempati urutan kedua setelah penyakit jantung. Angka kejadian gagal ginjal kronis meningkat dari tahun ke tahun, hampir mendekati 100% setiap tahun. Lebih kurang 200 sampai dengan 400 penderita gagal ginjal kronis per 1 juta penduduk (Hill etal., 2016). Sedangkan menurut data Riskesdas tahun 2013, prevalensi penduduk Indonesia yang menderita gagal ginjal sebesar 0,2% atau 2 per 1000 penduduk dan prevalensi batu ginjal sebesar 0,6% atau 6 per 1000 penduduk. Prevalensi penyakit gagal ginjal tertinggi ada di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 0,5% (Riskesdas., 2013)

Penyakit gagal ginjal kronis dapat disebabkan oleh kelainan genetik yang menyerang ginjal ataupun penyakit lain yang bisa dicegah agar tidak menjadi gagal ginjal kronis. Diabetes melitus, hipertensi, penggunaan obat-obatan atau jamu-jamuan yang merusak ginjal merupakan contoh penyebab gagal ginjal yang dapat dicegah. Dengan pemahaman yang baik dari masyarakat penyakit ginjal kronis juga dapat dikelola dengan baik sehingga tidak perlu atau setidaknya menunda menjadi gagal ginjal terminal(NKUDIC.,2012). Penyakit ini, terutama pada tahap lanjut sangat mengganggu kehidupan, aktivitas pekerjaan  sehari-hari, serta kualitas hidupnya.  PGK sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan dengan beban biaya kesehatan yang tinggi. Sementara, penyakit ini dapat dicegah dengan melakukan upaya pencegahan, pengendalian dan tatalaksana penyakit dasar seperti Hipertensi dan Diabetes Melitus sesuai standar pengobatan yang seharusnya, dan menghindari penggunaan obat-obatan atau zat-zat nefrotoksik (Marbun., 2017).

Ginjal merupakan organ vital di tubuh yang berfungsi menyaring zat limbah dari darah mengatur cairan dan elektrolit, lalu mengeluarkannya melalui urine. Namun, ginjal yang telah rusak tidak bisa melakukan proses tersebut. Hasilnya, zat limbah dapat menumpuk di tubuh. Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi mengancam jiwa. Dalam keadaan gagal ginjal terminal, fungsi-fungsi pembuangan limbah, pengaturan cairan dan elektrolit harus digantikan dengan terapi pengganti ginjal. Terapi pengganti ginjal ini dialisis yaitu peritonealdialisis atau cuci perut dan cuci darah atau hemodialisis, serta mengganti ginjal yang tidak berfungsi dengan transplantasi ginjal (Hassan etal., 2009).

Dari beberapa pilihan pengganti ginjal, transplantasi ginjal merupakan pilihan yang terbaik bagi pasien-pasien gagal ginjal terminal. Seperti kita ketahui misalnya hemodialisis, memerlukan kehadiran pasien minimal 2 kali dan masing-masing dilakukan proses “pencucian” selama lima jam. Efek samping hemodialisis sangat banyak dan terutama akan mengganggu produktifitas pasien. Ketersediaan mesin hemodialisis juga tidak bisa mengimbangi pertambahan jumlah pasien gagal ginjal terminal yang memerlukan dialisis, terlebih lagi di daerah-daerah di pelosok tanah air. Biaya langsung terkait hemodialisis juga cukup besar, di samping itu biaya tidak langsung seperti transportasi ke rumah sakit dan lain- lain juga merupakan kendala tersendiri bagi pasien-pasien gagal ginjal terminal dengan hemodialisis. Peritoneal dialisis atau continousperitoneal dialisis (CAPD) juga memerlukan kerjasama yang baik dari pasien. Pasien harus mengganti cairan ke dalam rongga perut secara berkala berulang kali. Demikian juga risiko infeksi harus diantipasi dan dicegah dengan baik.

Transplantasi ginjal sebagai pilihan terapi pengganti ginjal yang ada, merupakan pilihan terbaik dari tiga pilihan yang ada. Transplantasi ginjal dapat dilakukan baik dari donor ginjal yang hidup ataupun dari donor yang sudah meninggal. Pada saat ini transplantasi ginjal di Indonesia baru melayani transplantasi ginjal dengan donor hidup (Hassan., 2009., Susalit.,2018). Transplantasi ginjal adalah terapi penggantian ginjal yang melibatkan pencangkokan ginjal dari orang hidup atau mati kepada orang yang membutuhkan. Transplantasi ginjal masih menjadi terapi pilihan untuk sebagian kecil pasien dengan gagal ginjal dan penyakit ginjal tahap akhir. Transplantasi ginjal menjadi pilihan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Ginjal transplan biasanya tidak ditempatkan di tempat asli ginjal yang sudah rusak, kebanyakan di fossailiaka, sehingga diperlukan pasokan darah yang berbeda, seperti arteri renalis yang dihubungkan ke arteri iliakaeksterna dan vena renalis yang dihubungkan ke vena iliakaeksterna (Susalit., 2018., Pernefri., 2011)

Pasien gagal ginjal yang menjalani transplantasi ginjal mendapatkan berbagai keuntungan yang didapat. Seperti kita ketahui bahwa seseorang dapat hidup normal dengan satu ginjal yang berfungsi. Dengan demikian pasien transplantasi ginjal akan dapat hidup sebagaimana orang “normal”. Pemulihan dari berbagai keluhan akibat kelebihan cairan, ketidakseimbangan elektrolit dan gangguan asam basa akan menghilang. Pasien hidup seperti orang normal, dan dapat bekerja serta berinteraksi sosial secara normal. Pasien dapat makan dan minum lebih bebas daripada sebelumnya. Gangguan jantung dapat kembali pulih atau membaik, hipertensi akan normal atau lebih mudah terkontrol. Anemia atau kurang darah akan pulih sebagaimana orang normal. Demikian juga fungsi-fungsi seksual dan reproduksi baik laki-laki ataupun perempuan akan kembali normal dalam beberapa minggu atau bulan paska transplantasi ginjal. Pasien transplantasi ginjal pada usia reproduksi dapat memperoleh keturunan atau hamil. Kehamilan bagi pasien transplantasi ginjal perempuan biasanya minimal 1 tahun paska transplantasi ginjal (ECRS., 2008., Konsensus Transplantasi Ginjal)

Dalam pelayanan transplantasi ginjal hal yang penting adalah adanya kesesuaian donor dan resipien. Usia resipien yang dilakukan transplantasi idealnya adalah kurang dari 60 tahun, meskipun usia lebih dari 60 tahun tetap bisa dilakukan dengan hasil yang baik. Pasien transplan usia lebih dari 60 tahun lebih utama diperhatikan faktor ada tidaknya penyakit comorbid yang akan mempengaruhi keberhasilan transplan dalam jangka panjang(ECRS., 2008). Adapun syarat bagi donor ginjal hidup antara lain usia lebih 18 tahun (dewasa dan dapat bertanggung jawab secara legal secara mandiri) dan tidak ada kontra indikasi. Kontra indikasi donor ginjal meliputi laju filtrasi glomerulus <75 ml/menit/1.73m2, proteinuria > 300 mg/24 jam, hematuriamikroskopik patologis, batu ginjal multiple atau berulang, kista ginjal multiple, riwayat ginjal polikistik di keluarga, hipertensi tidak terkontrol, diabetes mellitus, hamil, penyakit kardiovaskular, insufisiensi paru, penyalahgunaan NAPZ, HIV positif, HBsAg/Henp C positif kepada resipien yang negative, keganasan, psikosis, retardasi mental serta adanya kelainan neurologis berat (Konsensus Transplantasi Ginjal., 2011., Susalit E., 2018).

Selanjutnya, pasien paska transplantasi ginjal akan dirawat untuk mengawasi tanda- tanda gangguan fungsi ginjal akibat operasi atau adanya gejala dan tanda rejeksi hiperakut, akut ataupun rejeksi kronis. Donor akan pulang sekitar 3 hari ke tiga paska operasi. Sedangkan penerima atau resipien ginjal akan pulang sampai 1 minggu paska operasi transplantasi, atau lebih sesuai kondisi pemulihan fungsi ginjal transplantasi pasien (ECRS., 2008.,Susalit., 2018). Pasien paska transplantasi ginjal  akan diminta kontrol dan pemeriksaan laboratorium sesuai jadwal. Pemberian obat anti penolakan ginjal donor harus diminum rutin. Risiko kerentanan infeksi akibat obat tersebut, pasien paska transplantasi ginjal terutama adalah melindungi dirinya dari risiko infeksi. Misalnya menghindari menengok orang berpenyakit infeksi, penakaian masker dan lain-lain (-ECRS., 2018). Dari penjelasan yang kami sampaikan di depan dapat kami tegaskan sekali lagi bahwa; ginjal sangatlah penting dalam kehidupan manusia, sehingga harus dijaga sebaik-baiknya agar tidak mengalami sakit. Apabila terjadi penyakit gagal ginjal terminal, pilihan terbaik terapi pengganti fungsi ginjal adalah transplantasi ginjal (Susalit., 2018).

Pasien- pasien penyakit ginjal kronis harus kontrol dan konsultasi ke dokter yang tepat secara rutin agar penyakitnya dapat terkelola dengan baik. Pengaturan gaya hidup, pengelolaan diit yang tepat dan pemberian obat-obat sesuai kebutuhan sangat bermanfaat bagi pasien-pasien penyakit ginjal kronis.

Kontributor :

Iri Kuswadi, Sp.PD-KGH FINASIM

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.