Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
HEADER1b
header kebiasaan baru new
GANTI SUITE ROOM
esc
slide_1200x500_call_center
early screening header web

Manajemen Stress di Tempat Kerja

Istilah sehat dalam kehidupan sehari-hari sering dipakai untuk menyatakan bahwa sesuatu dapat bekerja dan berfungsi secara normal. Menurut UU No 36 Tahun 2009 kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pengertian kesehatan saat ini memang lebih luas dan dinamis dibandingkan dengan batasan sebelumnya. Batasan kesehatan ini sejalan dengan batasan kesehatan sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Berdasarkan pengertian ini dapat diketahui bahwa untuk menjadi sehat tidak hanya dilihat dari segi jasmani tapi juga rohani (mental).

Dalam kehidupan, sebagian besar waktu seseorang dapat dihabiskan di tempat kerja. Itulah mengapa pengalaman di tempat kerja dapat menjadi aspek penting dalam menentukan kesehatan mental seseorang secara umum. Kesehatan mental seseorang dapat juga kita sebut dengan istilah kesejahteraan psikologis. Kesejahteraan psikologis merupakan kondisi dimana seseorang bebas dari aneka tekanan dan masalah mental sehingga mampu menerima dirinya /kehidupan masa lalunya (self-acceptance), mengalami pengembangan maupun pertumbuhan diri (personal growth), memiliki keyakinan bahwa hidupnya bertujuan dan bermakna (purpose in life) serta memiliki kualitas hubungan positif dengan orang lain. Selain itu, seseorang dikatakan memiliki kesejahteraan psikologis apabila dia mampu mengatur kehidupannya maupun lingkungannya secara efektif (environmental mastery) dan mampu menentukan tindakan sendiri (autonomy). Sejalan dengan hal tersebut, maka kesehatan mental menjadi salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan kesehatan kerja.

Kesehatan kerja merupakan sebuah kondisi dimana seseorang karyawan terbebas dari gangguan kesehatan baik fisik maupun mental yang disebabkan oleh lingkungan atau beban kerja. Masalah kesehatan mental dan stress kerja merupakan masalah yang sering terabaikan di tempat kerja. Setiap orang memiliki batas dalam menghadapi suatu stress, nilai ambang batas seseorang dalam menghadapi stress akan berbeda-beda karena dapat dipengaruhi oleh banyak faktor.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, stress terkait pekerjaan adalah pola reaksi yang terjadi saat pekerja dihadapkan pada tuntutan pekerjaan yang tidak sesuai dengan pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan pekerja, sehingga mereka membutuhkan daya adaptasi yang lebih tinggi dan upaya yang lebih keras untuk menyelesaikan pekerjaan. Artinya, jika karyawan mampu beradaptasi dengan tekanan yang didapatkan di tempat kerja maka kemampuan dan pengetahuan ini bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan berbagai masalah di tempat kerja dan dapat meningkatkan kemampuan (emotional skill) dari karyawan tersebut. Sebaliknya, jika kita tidak mampu beradaptasi dan tekanan dalam pekerjaan membuat pekerja menjadi frustasi, maka kemungkinan dapat terjadi stress yang dapat berakibat pada kesehatan fisik. Petugas kesehatan dapat mengalami stres kerja karena beberapa hal seperti besarnya beban kerja, adanya tekanan waktu, pasien yang kondisi sakit yang sulit, dan lain sebagainya. Stress yang menumpuk dapat menimbulkan gangguan kesehatan fisik maupun jiwa sehingga dapat menurunkan produktivitas kerja.

Adapun beberapa penyebab timbulnya stress kerja antar lain beban kerja yang sulit dan berlebihan, waktu dan peralatan kerja yang kurang memadai, pengetahuan dan kemampuan karyawan yang kurang memadai, kurang jelasnya penerapan peraturan dalam pekerjaan, kurang dukungan dari rekan sejawat dan pimpinan, tekanan dan sikap pemimpin yang kurang adil dan wajar, konflik antara pribadi dengan pimpinan atau rekan kerja, balas jasa atau imbalan yang terlalu rendah maupun adanya masalah-masalah keluarga yang dapat mempengaruhi performa kerja. Ciri-ciri orang yang mengalami stress dapat dilihat dari reaksi fisik, reaksi pikiran/kognitif, reaksi perilaku dan respon emosional yang diberikan. Reaksi fisik orang yang mengalami stress bisa dilihat dari detak jantung dan tekanan darah yang meningkat, keringat berlebihan, otot-otot tegang, sakit kepala berulang, perubahan pola makan, serta sulit tidur dan tidur tidak nyenyak. Reaksi pikiran atau kognitif pada orang yang mengalami stress cenderung perhatiannya berkurang, menjadi pelupa, berpikir tidak efektif serta sulit memusatkan perhatian atau sulit konsentrasi. Produktivitas berkurang, sering berbuat kesalahan dalam bekerja serta sering tidak masuk kerja juga merupakan reaksi perilaku orang yang mengalami stres. Sedangkan respon emosional yang biasanya diberikan berupa rasa takut atau menutup diri terhadap lingkungan, mudah tersinggung/marah, sedih dan cemas berlebihan serta berkurangnya motivasi kerja.

Stress berkepanjangan tidak hanya memicu kelelahan mental, tapi juga mempengaruhi kesehatan fisik. Gejala yang biasa timbul antara lain meningkatnya denyut jantung, tekanan dara dan cenderung mengalami penyakit jantung, gangguan pencernaan, kelelahan secara fisik, sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot serta gangguan tidur. Perlu diperhatikan bahwa apabila selama berolahraga lalu merasakan gelap berkunang-kunang atau muncul tanda dehidrasi, maka olahraga harus dikurangi atau berhenti. Terjadinya masalah kesehatan jiwa berdampak negatif pada produktivitas. Masalah kesehatan jiwa yang banyak ditemui pada pekerja adalah depresi dan kecemasan berlebihan yang berakibat karyawan tidak dapat bekerja dengan aman dan optimal.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi stress dan mencapai jiwa yang sehat antara lain menyeimbangkan hidup dalam lingkungan sosial dan pekerjaan, bicarakan keluhan dengan seseorang yang dapat dipercaya, lakukan kegiatan sesuai dengan minat dan kemampuan, jagalah kesehatan dengan olahraga/aktivitas fisik secara teratur, tidur cukup, makan bergizi seimbang, terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, kembangkan hobi yang bermanfaat, meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri pada Tuhan, berpikir positif dan tenangkan pikiran dengan relaksasi. Teknik relaksasi untuk mengatasi stress dapat dilakukan dengan duduk dengan posisi santai dan nyaman sambil membayangkan hal yang menyenangkan dengan mata terpejam, kemudian tarik nafas dari hidung, lalu hembuskan nafas dari mulut dengan membayangkan seolah beban pikiran dilepaskan yang diulangi sebanyak 3 kali sembari mensyukuri nikmat Tuhan YME. Mari bersama kita kelola stres mulai dari sekarang guna meningkatkan produktivitas kerja. Salam K3!

Kontributor :

Unit Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (Unit K3RS)

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.