Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Ciptakan Tempat Kerja Idaman dengan 5S

Istilah 5S adalah sebuah metode yang diterapkan untuk menciptakan area kerja yang rapi, bersih, dan produktif. Implementasi metode 5S akan meningkatkan keselamatan kerja (safety), menumbuhkan tanggungjawab karyawan dan rasa memiliki di area kerja. 5S adalah pendekatan yang sederhana untuk meningkatkan visual control di area kerja, meningkatkan visibilitas proses, meningkatkan potensi problem solving dan biasanya dijalankan bersamaan dengan praktek-praktek peningkatan keselamatan. Jika area kerja tertata rapi, maka masalah yang tadinya “tersembunyi” dapat terlihat dan terselesaikan. Istilah 5S sendiri muncul dari abreviasi lima kata dalam Bahasa Jepang, yaitu Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. SEIRI (Membuang yang tidak perlu), SEITON (Menempatkan barang pada tempatnya), SEISO (Menjadikan area kerja bersih), SEIKETSU (Standarisasi prosedur 3S yang pertama) dan SHITSUKE (Disiplin dari diri sendiri).

Langkah pertama dari 5S adalah SEIRI. Konsepnya adalah menyingkirkan barang-barang yang tidak terpakai dari area kerja. Prinsipnya, jika barang tersebut tidak dibutuhkan maka harus dibuang. Barang yang tidak dibutuhkan adalah barang-barang yang sudah tidak berguna dan tidak berhubungan dengan pekerjaan. Selain itu, aktivitas Seiri juga meliputi pemilahan antara barang-barang yang masih diperlukan dan yang tidak diperlukan. Jika masih diperlukan, barang tetap disimpan di area kerja. Semakin kecil jumlah barang di suatu area, maka akan membuat area kerja semakin lapang dan membantu kelancaran kerja dan produktifitas.

Langkah kedua adalah SEITON. Konsepnya adalah mengatur letak dan penyimpanan barang-barang sehingga akan menunjang kelancaran kerja dan produktivitas. Setelah aktivitas Seiri, tentu kini barang yang tersisa di area kerja hanyalah yang memang dibutuhkan dalam pekerjaan. Tugas selanjutnya adalah

mengatur tempat penyimpanan dan peletakan barang-barang tersebut sehingga mudah ditemukan, mudah diidentifikasi dengan posisi yang ergonomis, sehingga karyawan tidak perlu repot mencari sebelum menggunakannya. Konsepnya adalah zero time finding, artinya waktu mencari barang harus sangat cepat, sehingga mengurangi stress saat mencari barang dan menjadikan area kerja lebih produktif. Mottonya adalah “There should be a place for everything and everything should be in its place.”

Langkah ketiga adalah SEISO. Setelah semua barang memiliki tempat masing-masing, maka aktivitas selanjutnya adalah membersihkan dan memastikan kebersihan semua barang dan area kerja pada kondisi puncak. Konsepnya bersih dan bersinar seperti ruang pameran. Area kerja yang bersih menjadikan lingkungan kerja sehat dan nyaman. Hal ini juga bagus untuk mencegah motivasi kerja turun karena area kerja yang tidak bersih.

Langkah keempat adalah SEIKETSU. Pada langkah ini,harus dipastikan bahwa tiga langkah yang pertama benar-benar berjalan secara konsisten dengan menetapkan standar-standar. Misalnya, dengan cara pembuatan prosedur yang mengatur seberapa sering kegiatan tersebut harus dilakukan, siapa yang melakukan, bagaimana cara membersihkannya dan dengan apa. Semua praktek kerja harus berjalan dengan konsisten dan terstandar agar tidak terjadi kemunduran kualitas. Seiketsu juga menjadi tempat yang sangat tepat untuk implementasi visual management. Visual management adalah konsep yang diterapkan untuk area kerja dengan tujuan untuk mengenali adanya ketidak-normalan pada proses dalam waktu yang sangat cepat oleh siapapun. Ketidak-normalan tersebut, misalnya, berupa barang yang diletakkan tidak pada tempatnya, stok barang yang melebihi batasan, tekanan mesin yang terlalu besar, dan sebagainya. Metode pengaturan yang umum digunakan pada konsep Visual Management ini adalah kode-kode warna (color coding), misalnya red-green. Red untuk kondisi abnormal dan green untuk kondisi normal. Anda juga bisa memberikan kode-kode warna pada barang dan perkakas yang menjadi inventori di area tertentu, contohnya: merah untuk area produksi, kuning untuk area perakitan, dan hijau untuk area pengemasan, dan sebagainya.

Langkah kelima adalah SHITSUKE. Aktivitas pada langkah ini adalah memelihara dan meninjau hal-hal yang telah terstandar secara berkala. Ketika keempat “S” sudah dilakukan, maka akan terbentuk suatu kebiasaan kerja baru yang berlaku di area kerja. Pelihara fokus terhadap keempat S tersebut dan jangan sampai kebiasaan lama perlahan kembali dilakukan. Jika kegiatan 5S dilakukan secara teratur, maka akan tercipta sebuah kebiasaan untuk menjaga kebersihan dan keteraturan. Jika kebiasaan ini dilakukan dengan kesadaran penuh tanpa harus selalu dikomando, akan tumbuh sebuah karakter. Karakter inilah yang akan membentuk budaya dan memberikan dampak besar bagi kesuksesan kerja di perusahaan.

Kontributor :

Ruwanto, S.ST.

Unit Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (Unit K3RS)

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.