Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
HEADER1b
GANTI SUITE ROOM
esc
slide_1200x500_call_center
HEADER2b

Merkuri dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Manusia

Mercuri atau air raksa (Hg) merupakan logam yang berbentuk cairan dalam suhu ruang ( 25°C) berwarna keperakan. Sifat merkuri sama dengan sifat kimia yang stabil terutama di lingkungan sedimen, yaitu mengikat protein, mudah menguap dan mengemisi atau melepaskan uap merkuri beracun walaupun pada suhu ruang. Uap merkuri di atmosfir dapat bertahan selama 3 bulan hingga 3 tahun sedangkan yang melarut dalam air hanya bertahan beberapa minggu. Beberapa jenis merkuri yang digunakan dalam dunia kesehatan antara lain Merkuri Elemental (Hg), Merkuri Inorgnanik dan Merkuri Organik. Merkuri Elemental (Hg) terdapat dalam termometer, tensimeter air raksa, amalgam gigi, alat elektrik, batu batere dan cat. Selain itu, merkuri elemental juga digunakan sebagai katalisator dalam produksi soda kaustik dan desinfektan serta untuk produksi klorin dari sodium klorida. Sedangkan Merkuri Inorganik dalam bentuk Hg++(Mercuric)dan Hg+(Mercurous) dapat ditemukan pada desinfektan, teething powder dan laksansia (calomel) serta mercurous fulminate yang bersifat mudah terbakar. Serta Merkuri Organik yang terdapat dalam beberapa bentuk, antara lain metil merkuri dan etil merkuri yang keduanya termasuk bentuk alkil rantai pendek dijumpai sebagai kontaminan logam di lingkungan, misalnya memakan ikan yang tercemar zat tersebut dapat menyebabkan gangguan neurologis dan kongenital dan merkuri dalam bentuk alkil dan aryl rantai panjang dijumpai sebagai antiseptik dan fungisida.

Uap merkuri yang terhirup paling sering menyebabkan keracunan, sedangkan unsur merkuri yang tertelan ternyata tidak menyebabkan efek toksik karena absorpsinya yang rendah kecuali jika ada fistula atau penyakit inflamasi gastrointestinal atau jika merkuri tersimpan untuk waktu lama di saluran gastrointestinal. Merkuri yang masuk ke dalam tubuh melalui intravena dapat menyebabkan emboli paru. Karena bersifat larut dalam lemak, merkuri elemental mudah melalui sawar otak dan plasenta. Di otak, ia akan berakumulasi di korteks cerebrum dan cerebellum dimana ia akan teroksidasi menjadi bentuk merkurik (Hg++ ) ion merkurik ini akan berikatan dengan sulfhidril dari protein enzim dan protein seluler sehingga menggangu fungsi enzim dan transport sel. Selain itu, pemanasan logam merkuri membentuk uap merkuri oksida yang bersifat korosif pada kulit, selaput mukosa mata, mulut dan saluran pernafasan.

Selain merkuri elemental dan merkuri inorganik, merkuri organik juga memiliki bahayanya sendiri. Merkuri organik sering diabsorpsi melalui gastrointestinal, paru-paru dan kulit. Pemaparan dalam jangka pendek dengan kadar yang tinggi dapat menyebabkan gagal ginjal sedangkan pada pemaparan jangka panjang dengan dosis yang rendah dapat menyebabkan proteinuri, sindroma nefrotik dan nefropati yang berhubungan dengan gangguan imunologis. Sedangkan merkuri organik, terutama bentuk rantai pendek alkil (metil merkuri) dapat menimbulkan degenerasi neuron di korteks cerebri dan cerebellum dan mengakibatkan parestesi distal, ataksia, disartria, tuli dan penyempitan lapang pandang. Metil merkuri mudah pula melalui plasenta dan berakumulasi dalam fetus yang mengakibatkan kematian dalam kandungan dan cerebral palsy.

Penanganan tumpahan merkuri yang disosialisasikan di lingkungan rumah sakit adalah dengan melakukan dekontaminasi apabila terdapat tumpahan merkuri. Adapun spill kit yang wajib disediakan meliputi apron, kacamata, masker, senter, spuit, tissue, lakban, botol 1, botol 2, chlorine 0,5%, gelas ukur, sprayer, sepatu boot, tanda peringatan, sarung tangan disposable, kertas karton tebal (2 lembar), plastic medis (2 lembar), pengki dan kertas karton tebal. Sedangkan langkah-langkah dekontaminasi tumpahan mercury sebagai berikut :

  1. Petugas menyiapkan Spill Kit dan memasang tanda peringatan.
  2. Petugas melepas semua perhiasan dan memakai APD.
  3. Petugas mengumpulkan pecahan kaca thermometer atau tensimeter dan peralatan lain yang mengandung mercury ke dalam botol 1 menggunakan pengki dan kertas karton.
  4. Petugas mengumpulkan tumpahan mercury memakai kertas karton dan mengambil kumpulan mercury dengan spuit.
  5. Petugas memasukkan hasil sedotan mercury ke dalam botol 2 yang berisi air dan disegel dengan rapat.
  6. Petugas memasukkan spuit terkontaminasi mercury kedalam botol 1 dan tutup rapat.
  7. Petugas mematikan lampu ruangan untuk mencari sisa tumpahan mercury dengan senter dan merekatkan lakban untuk mengambil sisa mercury.
  8. Petugas melakukan penyemprotan larutan chlorine 0,5% dilokasi tumpahan mercury kemudian dilakukan pengelapan dengan tissue.
  9. Petugas memasukkan lakban, kertas karton, dan tissue ke dalam plastic medis 1 kemudian diikat.
  10. Petugas memasukkan plastic medis 1, botol 1, botol 2 dan sarung tangan disposable ke dalam plasik medis 2 diikat dan diberi label “Limbah Mercury”.
  11. Petugas melepaskan APD.
  12. Spill Kit dan peralatan lainnya dikembalikan ke tempat semula.
  13. Dilanjutkan 6 langkah cuci tangan.
  14. Tisu bekas lap cuci tangan dimasukkan ke dalam TPS Non Medis.

Kontributor :

Nur Farichah, SKM

Bagian Pendidikan dan Penelitian RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Sumber :

  1. WHO (2005), Pengelolaan Limbah Medis : Konsep,Tehnologi dan Pelatihan
  2. Balifocus (2013), Laporan Pengukuran Konsentrasi Merkuri (Hg) di Udara Dalam Ruangan Di Sepuluh Rumah Sakit di Kota Denpasar
  1. Balifocus (2012), Fasiulitas Kesehatan Bebas Merkuri
  2. Mirfan (2013),Dampak Limbah Merkurib Hasil Perta,bangan Terhadap Lingkungan Dan Kesehatan
Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.