Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Jangan Anggap Remeh Kanker Nasofaring

Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker. Karsinoma adalah kanker yang berasal dari sel-sel epitel dinding dalam dan luar nasofaring. Nasofaring adalah bagian atas tenggorokan (faring) yang terletak di belakangan hidung. Nasofaring berbentuk seperti sebuah kotak berongga dan terletak di bagian lunak atap mulut (soft palate) dan terletak di belakang hidung. Menurut American Cancer Society, Karsinoma Nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang paling sering tumbuh di daerah nasofaring. Secara umum, kanker nasofaring adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit – langit rongga mulut. Di bagian THT, kanker nasofaring merupakan keganasan paling banyak atau tertinggi di seluruh yang banyak mengenai laki-laki dibandingkan perempuan dengan perbandingan 3:1 atau 2,5:1. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor etiologi seperti merokok, alkoholisme, genetik, polusi, asap pembakaran, konsumsi makanan yang dibakar, makanan yang diawetkan dengan cara diasinkan, diasap, ataupun formalin dan adanya Epsteinbar Virus (EBV) atau virus yang bisa ditemukan di daerah nasofaring yang berhubungan langsung dengan kanker nasofaring.

Pada penderita kanker nasofaring, gejala yang ditimbulkan dapat dibagi menjadi gejala awal dan gejala lanjut. Gejala awal yang biasanya muncul antara lain telinga berdenging, terasa penuh dan kemampuan pendengaran yang menurun. Selain itu, hidung penderita akan merasa tersumbat karena pilek yang kronik hingga terdapat lendir bercampur dengan darah. Sedangkan gejala lanjut yang dialami oleh penderita kanker nasofaring meliputi adanya gejala perluasan intrakranial yang ditandai dengan sakit kepala kronik, mata juling (diplopia), nyeri wajah, wajah kebas dan munculnya benjolan leher yang semakin lama semakin membesar namun tidak menimbulkan nyeri.

Adapun proses untuk menegakkan diagnosis pasien yang menderita kanker nasofaring dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu anamnesis dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan biopsi. Terdapat satu patokan untuk pemeriksa agar curiga terhadap akan adanya karsinoma nasofaring, diantaranya setiap tumor di leher yang letaknya di bawah mastoid dan di belakangan angulus mandibula kemungkinan adalah karsinoma nasofaring, serta terdapat gejala hidung, mata, telinga dan saraf yang lengkap. Selain itu, penegakan diagnosa karsinoma nasofaring dapat dilanjutkan dengan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti CT Scan kepala dan leher untuk melihat tumor primer yang letaknya tersembunyi dan pemeriksaan serologi IgA untuk infeksi virus Epstein-Barr. Langkah terakhir yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa tersebut adalah melalui tindakan biopsi dengan mengambil sampel dari benjolan di nasofaring untuk selanjutnya diperiksa di bawah mikroskop.

Penentuan jenis KNF seorang pasien dilakukan dengan beberapa pemeriksaan penunjang seperti CT Scan atau MRI untuk melihat seberapa perluasan KNF, Rontgen Thorax untuk melihat apakah ada metastatis di bagian paru, Upper dan Lower USG untuk melihat apakah ada penyebaran di liver, di bagian perut, dsb, serta Bone Survey untuk melihat metastatis di bagian tulang mulai dari kepala sampai dengan kaki. Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan tersebut, barulah dapat ditentukan pasien mengidap KNF stadium berapa. Komplikasi yang mungkin terjadi akibat KNF dapat berbeda-beda. Jika kanker yang diderita pasien semakin besar, akan membahayakan organ lain di dekatnya, seperti tulang, tenggorokan, dan otak.

Pengobatan kanker pada umumnya meliputi tindakan bedah atau operasi, radioterapi, imunoterapi, penggunaan obat-obatan sitostatika dan hormon. Pembedahan dapat dilakukan melalui pembedahan transpalatal maupun transmaksiler paranasal. Terapi bedah dapat juga dilakukan pada tumor metastase dengan membuang kelenjar limfe yang berada di leher. Pengobatan lainnya yang dapat dilakukan adalah radioterapi atau terapi radiasi yang ditujukan pada daerah tumor induk dan pada daerah perluasannya. Radioterapi dikenal 2 macam, yaitu brakiterapi dan teleterapi. Brakiterapi adalah jenis radioterapi yang dimana sumber sinar dekat dengan tumor dan dipasang dalam tubuh penderita, sedangkan teleterapi bila sumber sinar jauh dari tumor dan di luar tubuh penderita. Selanjutnya, obat-obatan sitostatika dapat diberikan sebagai obat tunggal maupun kombinasi bagi pasien KNF. Obat tunggal pada umumnya dikombinasikan dengan radioterapi sedangkan obat kombinasi dapat diberikan sebagai pengobatan lanjutan setelah radiasi untuk pengobatan penderita karsinoma yang mengalami kekambuhan.

Penyebab karsinoma nasofaring memang belum sepenuhnya jelas, namun demikian kita dapat melakukan upaya pencegahan dengan menghindar dari paparan faktor risiko yang dapat diubah, seperti menghindari polutan-polutan yang dapat menyebabkan karsinoma nasofaring. Selain itu, usahakan untuk menciptakan lingkungan hidup dan lingkungan kerja yang sehat dengan sirkulasi udara yang lancar. Hindari polusi udara, seperti kontak dengan gas hasil zat-zat kimia, asap industri, asap kayu, asap rokok, asap minyak tanah dan polusi lain yang dapat mengaktifkan virus Epstein bar. Hal yang tak kalah penting lainnya adalah hindari mengonsumsi makanan yang diawetkan, makanan yang panas, atau makanan yang merangsang selaput lendir.

Kontributor :

Camelia Herdini, Sp.THT, M.Kes.

KSM THT-KL – RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.