Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
HEADER1b
header kebiasaan baru new
GANTI SUITE ROOM
esc
slide_1200x500_call_center
early screening header web

Lawan Obesitas !!!

Masalah berat badan berlebih (overweight) dan kegemukan (obesitas) terjadi di seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Berdasarkan data Global Nutrition Report, sebanyak 10 % penduduk dewasa di Indonesia mengalami berat badan berlebih (overweight), dan sebanyak 2 % mengalami obesitas (WHO,2007). Peningkatan prevalensi masyarakat yang mengalami overweight dan obesitas disebabkan oleh perubahan gaya hidup masyarakat yaitu asupan energi yang berlebih dan aktivitas fisik yang kurang. Obesitas dan overweight adalah 2 istilah yang sering digunakan untuk menyatakan adanya  kelebihan berat badan. Kedua istilah ini sebenarnya mempunyai pengertian yang berbeda. Obesitas diartikan sebagai suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lema tubuh secara berlebihan. Sedangkan overweight adalah kelebihan berat badan dibandingkan dengan berat ideal yang dapat disebabkan oleh penimbunan jaringan lemak atau nonlemak. Overweight dan obesitas terjadi karena ketidak seimbangan antara energi yang dikonsumsi dengan yang dikeluarkan. Saat ini masyarakat lebih banyak mengkonsumsi makanan yang kaya energi seperti lemak dan gula, sedangkan aktivitas fisik rendah karena perubahan moda transportasi dan tuntutan dari pekerjaan (Budiyanto, A K. 2002).

Overweight dan obesitas bisa diketahui dengan mengukur indeks massa tubuh (IMT), yaitu dengan mengukur berat badan dan tinggi badan. IMT dihitung dengan membagi berat badan (dalam kilogram) dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Indeks massa tubuh ini adalah indikator yang paling sering digunakan dan praktis untuk mengukur tingkat populasi overweight dan obesitas pada orang dewasa. Berdasarkan klasifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut kriteria Asia Pasifik, seseorang dikatakan overweight jika memiliki IMT 23-24,9 dan seseorang dikatakan obesitas jika memiliki IMT ≥ 25. Sedangkan menurut Depkes RI, Seseorang dikategorikan overweight jika BMI > 25 dan obesitas jika BMI > 27. (Kemenkes RI,2013)

Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi IMT, yaitu : (1)Usia, prevalensi obesitas meningkat secara terus menerus dari usia 20-60 tahun. Setelah usia 60 tahun, angka obesitas mulai menurun; (2) Jenis Kelamin, Pria lebih banyak mengalami overweight dibandingkan wanita. Distribusi lemak tubuh juga berbeda pada pria dan wanita, pria cenderung mengalami obesitas visceral dibandingkan wanita; (3) Genetik, beberapa studi membuktikan bahwa faktor genetik dapat memengaruhi berat badan seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa orangtua obesitas menghasilkan proporsi tertinggi anak-anak obesitas; (4) Pola Makan, makanan siap saji juga berkontribusi terhadap epidemi obesitas. Banyak keluarga yang mengonsumsi makanan siap saji yang mengandung tinggi lemak dan tinggi gula. Alasan lain yang meningkatkan kejadian obesitas yaitu peningkatan porsi makan ;(5)Aktivitas Fisik, saat ini level aktifitas fisik telah menurun secara dramatis dalam 50 terakhir, seiring dengan pengalihan buruh manual dengan mesin dan peningkatan penggunaan alat bantu rumah tangga, transportasi dan rekreasi. (Asil, E et al.,2014)

Pada kasus overweight, kecenderungan faktor resiko menjadi penyakit tertentu lebih sedikit dibandingkan obesitas. Sedangkan obesitas cenderung mengakibatkan penyakit yang lain seperti jantung, hipertensi, dan penyakit lainnya. Beberapa faktor penyebab obesitas, di antaranya faktor genetik (keturunan), misalnya orang tuanya gemuk bisa jadi anaknya berisiko gemuk jadi faktor risikonya lebih tinggi. Seharusnya obesitas bisa lebih bagus ditekan pada usia dini,  mulai dari bayi. Selain faktor lingkungan yang membuat kita kurang gerak atau kurang aktivitas juga bisa menyebabkan obesitas, faktor efek samping beberapa obat dapat menyebabkan seseorang menjadi obesitas, misalnya penggunaan steroid itu bisa memacu appetite (selera makan) sehingga pola makannya berlebih jika tidak dikontrol dengan baik. Faktor psikis atau stress juga dapat menyebabkan orang makan dalam porsi yang banyak sehingga bisa menjadi faktor yang mempengaruhi obesitas.

Obesitas bisa ditekankan pada usia dini. Peran keluarga sangat penting agar anak tidak mengalami obesitas. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain mengatur pola makan dengan memberikan makanan yang bergizi dan hindari makan Junk Food, melakukan pemeriksaan rutin di General Check Up bagi anak yang beresiko tinggi mengalami obesitas karena faktor keturunan, serta membatasi penggunaan gadget dengan mengajarkan anak untuk bermain yang mengeluarkan keringat seperti basket, lompat tali, dsb. Bagi seseorang yang berada di atas usia lanjut, aktifitas fisik sehari-hari untuk menekan obesitas yang dapat dilakukan antara lain menyapu, mengepel, serta latihan fisik seperti berlari, bersepeda dan olah raga yang tujuannya kompetitif, seperti sepak bola, badminton, tenis, dll. Konsumsi makanan dengan gizi seimbang juga penting untuk diperhatikan. Diet untuk menurunkan asupan karbohidrat bahkan kurang dari 20 gram dalam satu hari itu sangat membahayakan bagi tubuh karena otak kita masih membutuhkan zat gizi yang berasal dari karbohidrat yaitu glukosa sedangkan asupan karbohidrat yang sangat rendah itu nanti akan memecah lemak dalam tubuh menjadi keton. Jika keton ini berlebihan di dalam tubuh atau menjadi ketoasidosis itulah yang membahayakan. Jenis diet yang disarankan yaitu diet rendah kalori dan gizi seimbang,  dimana pembagian 1 piring dibagi menjadi separuh porsi buah-buahan atau sayur-sayuran, seperempat bagian karbohidrat atau nasi, dan seperempat bagian berupa protein seperti lauk pauk seperti tempe, daging, dll.

Kontributor :

Vina Yanti Susanti, M.Sc., PhD.,Sp.PD.KEMD

KSM Penyakit Dalam – RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Daftar Pustaka

Budiyanto, A K. 2002. Gizi dan Kesehatan. Malang. Bayu Media UMM Press

Asil, E et al.,2014. Factors That Affect Body Mass Index of Adults. Pakistan Journal of Nutrition 13 (5): 255-260

 

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.