Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Hepatitis B dan Hepatitis C Ada Obatnya, Ayo Periksa!

Setiap tanggal 28 Juli , kita selalu memperingati Hari Hepatitis Sedunia atau World Hepatitis Day yang bertujuan untuk mengingatkan dan meningkatkan kesadaran manusia bahwa penyakit hepatitis akibat infeksi virus hepatitis B dan C  masih menjadi ancaman kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Tanggal 28 Juli merupakan tanggal kelahiran Baruch Samuel Blumberg, penemu virus hepatitis B, yang digunakan oleh WHO sebagai tanggal penyadaran terhadap umat manusia untuk mengatasi infeksi virus hepatitis, khususnya B dan C yang masih menjadi masalah kesehatan dunia dengan sekitar 250 jutaan orang di dunia terinfeksi virus ini. Organ hati  yang terinfeksi virus hepatitis B atau C dalam kondisi kronik (sangat sering tanpa disertai gejala apapun) dapat berkembang menjadi pengerasan organ hati yang disebut sirosis hati yang bisa mengakibatkan komplikasi muntah darah dan/atau berak darah hitam, perut membengkak terisi cairan, badan menjadi kuning, penurunan kesadaran, hingga meninggal dunia.

Berbeda dengan hepatitis A  yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis A, maka hepatitis A meskipun memberikan gejala dan penampilan fisik yang mungkin menakutkan seperti mata dan kulit kuning, serta air kencing warna seperti air teh, namun penyakit ini hanya penyakit akut saja dan tak pernah menjadi kronik dan fatalitasnya sangat rendah serta penderitanya dapat sembuh sempurna. Sementara itu, penyakit Hepatitis B atau C dapat muncul sebagai penyakit infeksi akut dengan gejala dan gambaran fisik mirip Hepatitis A, namun dapat berkembang menjadi penyakit kronik, dimana virus tetap bertahan hidup di tubuh orang yang terinfeksi. Bahkan yang sering orang tak menyadarinya adalah bahwa seseorang bisa mengidap virus hepatitis B dan C ini selama bertahun-tahun (bisa puluhan tahun), bahkan sejak lahir, tanpa merasakan adanya gejala apapun sementara virus terus menggerogoti organ hatinya, sampai orang tersebut dengan kesadarannya memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan HbsAg dan anti-HCV . Apabila hasil HbsAg positif/reaktif maka diduga kuat orang tersebut terinfeksi virus hepatitis B dan perlu dipastikan dengan pemeriksaan HBV-DNA. Apabila hasil anti-HCV positif/reaktif maka diduga kuat orang tersebut terinfeksi virus hepatitis C dan perlu dipastikan dengan pemeriksaan HCV-RNA.

Virus hepatitis B ditularkan melalui penggunaan jarum suntik bergantian dari orang yang memang sudah terinfeksi virus hepatitis B; kontak dengan darah/luka dari orang yang terinfeksi virus hepatitis B; penggunaan bersama alat cukur kumis atau sikat gigi dengan orang yang terinfeksi virus hepatitis B; anak yang terlahir dari ibu yang terinfeksi virus hepatitis B; serta hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi virus hepatitis B. Dalam beberapa kasus yang ada, sangat jarang dijumpai satu pasangan suami istri yang keduanya mengidap hepatitis B, lebih banyak kasus pasangan suami istri yang satu HbsAg reaktif sementara pasangannya sudah punya kekebalan Anti HBs yang tinggi (Anti HBs > 10mIU/mL). Apabila pasangan belum mempunyai kekebalan terhadap infeksi virus hepatitis B maka dapat dilakukan vaksinasi hepatitis B. Demikian juga bagi semua orang dengan HbsAg dan anti HBc tidak terdeteksi serta anti-HBs < 10 mIU/mL dapat menjalani vaksinasi hepatitis B , dengan vaksinasi di usia muda respon kekebalannya umumnya lebih baik.

Virus hepatitis B tidak menular melalui makanan, alat-alat makan, berpelukan, berciuman, berangkulan, berjabatan tangan, batuk, maupun bersin. Sehingga tidaklah masuk akal apabila pengidap virus hepatitis B atau C dijauhi, disingkirkan atau dipersulit dalam kehidupan sehari-hari. Virus hepatitis C ditularkan melalui cara serupa dengan virus hepatitis B. Perbedaannya virus hepatitis C hingga saat ini belum ditemukan vaksinnya, namun dengan kemajuan pengobatan yang ada saat ini virus hepatitis C bisa dimatikan dan dihilangkan dari tubuh hingga sembuh sempurna.

Saat ini pengobatan terhadap infeksi virus hepatitis B dan C sudah sangat maju. Kedua jenis infeksi virus itu pada prinsipnya sudah bisa diobati. Pengobatan infeksi virus hepatitis B adalah menggunakan dua jenis obat. Obat suntik yang disebut pegylated interferon tiap minggu hingga 48 minggu atau obat yang diminum tiap hari dalam jangka panjang untuk menekan virus hepatitis B hingga tidak terdeteksi (lamivudine, telbivudine, adefovir, tenofovir, entecavir). Pengobatan infeksi kronik virus  hepatitis B baru dilakukan kalau ada peningkatan penanda radang liver (GPT/ALT) dua kali lipat atau lebih yang relatif menetap atau dari pemeriksaan fibrosis (pengerasan jaringan) hati dengan biopsi hati atau cara yang tidak invasif seperti fibroscan (mirip alat USG) atau dengan hitungan angka yang disebut skor fibrosis apabila sudah masuk kategori fibrosis sedang. Selama belum mencapai tahap itu, maka hanya cukup dievaluasi secara periodik antara 3-6 bulan sekali atau mungkin periodik 12 bulan tergantung kepentingan klinisnya. Pengobatan infeksi virus hepatitis C juga sudah sangat maju, cukup dengan kombinasi obat yang diminum tiap hari (di Indonesia tersedia, diantaranya, kombinasi sofosbovir+daclatasvir; sofosbovir+velpatasvir) selama 3 bulan hingga 6 bulan dapat menghilangkan virus hepatitis C dari tubuh manusia. Di rumah sakit rujukan tipe A pengobatan infeksi virus hepatitis B masuk dalam jaminan BPJS, dan di beberapa rumah sakit tipe A (termasuk RSUP Dr. Sardjito) pengobatan infeksi virus hepatitis C masuk dalam jaminan program Kementerian Kesehatan.

Dengan kesadaran diri untuk menjalani pemeriksaan HbsAg dan anti-HCV, merupakan langkah awal yang jitu untuk terhindar dari akibat-akibat buruk infeksi khronik virus hepatitis B maupun C. Hal ini karena infeksi virus hepatitis B maupun C paling sering justru tanpa gejala apapun hingga bertahun-tahun (bahkan puluhan tahun), sehingga orang sering terkejut ketika tahu ternyata diater infeksi virus tersebut. Gejala dan komplikasi baru tampak setelah infeksi khronik memasuki tahap sirosis hati. Ayo Periksa!

Kontributor :

Putut Bayu Purnama, Sp PD, K – GEH

Divisi Gastroenterologi & Hepatologi

KSM Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.