Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Mengenal Radioterapi Melawan Kanker dengan Radiasi

Radioterapi biasanya tidak jauh dari kanker, dimana adanya perbedaan antara sel normal dengan sel kanker biasanya dengan sel normal yang tidak baik kondisinya dan terdapat kerusakan akan mati. Sedangkan pada sel kanker apabila mengalami kerusakan tidak akan mati sehingga akan terus berkembang dan menciptakan suatu jaringan yang akan merusak jaringan sehat dalam tubuh kita. Sebenarnya didunia ini terdapat 3 tatalaksana utama untuk kanker yang sudah diakui seperti pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi. Dalam radioterapi berfungsi untuk terapi primer sebagai terapi kuratif primer, terapi ajuvan untuk pembedahan dan kemoterapi, dan terapi paliatif. Ketiga unsur tatalaksana utama tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam menangani kanker.

Radiasi awalnya ditemukan oleh Marie Curie pada tahun 1911 dan radiasi sudah dimanfaatkan manusia dibidang medis untuk dijadikan sebagai diagnostic dan terapi. Terdapat sekitar 2/3 kasus kanker yang membutuhkan radioterapi dalam tatalaksananya. Adapun perkembangan radioterapi sedemikian hebatnya apabila dibandingkan sejak pertama kali ditemukan. Sumber radioterapi terdapat dua yaitu Mesin Cobalt-60 dan Linear Accelerator (LINAC). Pada Mesin Cobalt-60 merupakan bahan radioaktif cobalt alami yang memencarkan radiasi selama peluruhannya menjadi nickel-60. Sedangan LINAC menggunakan gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi untuk mengakselerasi electron menjadi energy tinggi melalui tabung vakum linear.

Mekanisme radiasi membunuh sel kanker diawali dengan pemutusan pada DNA dimana apabila rusak maka seluruh sel akan rusak, kebanyakan sel yang mati biasanya terjadi Double-Stranded Break sedangkan pada Single-Stranded Break hanya satu kemungkinan. Jadi kedua mekanisme ini merupakan mekanisme langsung. Adapun prinsip radioterapi yaitu memberikan dosis sebesar-besarnya pada tumor dengan memberikan dosis sekecil-kecilnya pada jaringan sehat (Therapeutic Ratio), kemudian perkembangan radioterapi adalah pada teknik tentang bagaimana agar prinsip tersebut dapat dilakukan semaksimal mungkin. Teknologi terbaru radioterapi memungkinkan untuk mendapatkan distribusi dosis yang baik ke tumor dan melindungi jaringan sehat sehingga tumor kontrol dan angka kesembuhan meningkat.

External Beam Radiotherapi (EBRT) merupakan metode radioterapi yang menggunakan pesawat LINAC (Linear Accelerator atau Cobalt-60). Membutuhkan simulator/Ct. Simulator, dan alat bantu penyinaran, dilakukan dengan perhitungan dosis terhadap tumor dan jaringan sehat sebelum radiasi. Adapun jenis teknik yang dapat dilakukan pada EBRT seperti 2D Konvensional, 3D Conformal Radiotherapy, IMRT, IGRT, SRS, SRT (Gamma Knife/X-Knife), Fungsional Radiotherapy (Fusi PET Scan/MRI/MRS), dan Heavy Ion (Proton, Carbon).

Brakiterapi merupakan metode radioterapi yang memasukkan zat radioaktif melalui aplikator untuk sementara waktu yang telah diperhitungkan , menggunakan perhitungan Inversquare Law, pemasangan aplikator Interstitial dikamar operasi, dilanjutkan dengan planning dan penyinaran.

Efek samping akut yang terjadi akibat radioterapi tergantung pada area penyinaran seperti pada kepala dan leher yaitu mulut kering, air liur yang mengental, sakit tenggorokan, sulit menelan, mual, sariawan, kerusakan pada gigi. Pada tenggorokan, leher dan dada yaitu gangguan menelan, bum sensation, batuk, serak/perubahan suara. Pada perut dan panggul yaitu mual, muntah, diare, cystitis dan disfungsi seksual. Pada kulit yaitu dermatitis radiasi gr’I-IV. Mungkin saja seseorang tidak mengalami efek samping sementara yang lain mengalami beberapa efek samping secara sekaligus, sebagian besar efek samping bersifat semnetara dan mampu untuk dikendalikan dan yang terpenting akan segera hilang setelah terapi selesai.

Penulis :

Ericko Ekaputra Sp. Onk Rad

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.