Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Mengenal Tuberkulosis Resisten Obat (Multidrug Resistant Tuberculosis)

MDR TB merupakan permasalahan utama di dunia. Banyak faktor yang memberikan kontribusi terhadap resistensi obat pada Negara berkembang termasuk ketidaktahuan penderita tentang penyakitnya, kepatuhan penderita buruk, pemberian monoterapi atau regimen obat yang tidak efektif, dosis tidak adekuat, instruksi yang buruk, keteraturan berobat yang rendah, motivasi penderita kurang, suplai obat yang tidak teratur, Bioavailibity yang buruk dan kualitas obat memberikan kontribusi terjadinya resistensi obat sekunder.

TBC Resisten Obat merupakan perkembangan dari TBC biasa, kemudian pada akhirnya sesuai dengan kondisiniya berkembang menjadi kebal akan obat tertentu dan beberapa jenis obat lainnya. Fokus utamanya adalah kebal terhadap obat Bakteriosid, Rimfampisin, dan Isoniazid.  Diagnosis yang dikembangkan sekarang untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan GeneXpert. Diagnosis bakunya adalah kultur Microbacterium tuberculosis di media padat dan terdeteksi dengan resistensinya terhadap Rimfampisin dan Isoniazid. Kondisi yang ada di RSUP Dr. Sardjito dari tahun 2011-2018 totalnya terdapat 120 pasien sampai sekarang, kemudian sebanyak 31 pasien meninggal dalam perawatan atau rawat jalan dan sebanyak 26 pasien sembuh. Respon terapi yang sembuh yaitu sebesar 80%. Memang rata-rata penyembuhan internasional sekitar 67%. Adapun proses ataupun lama perawatan TBC antara 18-36 bulan.

Prosedur pengobatan standar, akan dilakukan diagnosis terkait dengan GeneXpert menggunakan bahan sputum dan cairan tubuh lainnya. Golongan obat dalam panduan terapi MDR seperti Grup A Fluorokuinolon meliputi Levolfloksaasin (Lfx), Moxifloksasin (Mfx), dan Gatifloksasin (Gfx). Grup B Obat Injeksi Lini Kedua meliputi Amikasin (Am), Capreomisin (Cm), Kanamisin (Km), dan Streptomisin (S). Grup C Obat Lini Kedua Utama Lainnya meliputi Etionamid/Protionamid (Eto/Pto), Sikloserin/Terizidone (Cs/Trd), Linezolid (Lzd), dan Clofazimine (Cfz). Grup D Obat Tambahan meliputi D1, D2, dan D3.

Masalah yang didapatkan dalam menangani pasien TBC Residen Obat seperti pada masalah mual muntah, diare biasa. Pada  permasalah telinga itu pasien akan mengalami ketulian terkadang irreversible yang menjadi masalah. Pada saraf seperti Neurophaty beberapa pasien dapat mengalami kejang sehingga harus mengkonsumsi obat anti kejang. Psychiatry, dimana pasien dapat mengamuk bahkan kambuhan sehingga harus rawat inap. Hepatopati juga terkadang dapat merepotkan kalau sampai kronik mengakibatkan henti jantung. HIV/AIDS, apabila sampai terjadi iris akan sulit membedakan mana yang merupakan efek samping atau iris. Alergi obat pun menimbulkan reaksi tertentu pada pasien. Manajemen pun dapat menjadi masalah seperti pada saat koordinasi lab rumah sakit dan mikrobiologi lab nasional.

Efek samping terbanyak pada kasus MDR TB adalah mual dan muntah, serta artralgia. Sebagian besar efek samping itu adalah derajat ringan dan dapat diatasi dengan memberikan obat simtomatis tanpa mengubah paduan obat. Efek samping gangguan renal berhubungan dengan riwayat pengobatan TB sebelumnya dan lebih banyak terjadi pada laki-laki. Sebaliknya, untuk gangguan pendengaran lebih banyak terjadi pada perempuan. Efek samping dari gangguan psikiatri cukup banyak sehingga perlu kerjasama yang erat antara tim ahli klinis dan ahli kesehatan jiwa.

Komorbiditas yang paling sering dihadapi adalah seperti pada penyakit Diabetes Mellitus yang memiliki permasalahan yang mengakibatkan pasien meninggal yang berawal dari pasien terkena TB dan mengalami gangguan paru akan mengalami komplikasi, pasien perokok dan sirosis hepatis, pasien HIV AIDS pun terkadang meninggal di tengah masa pengobatan, bahkan pasien usia lanjut (>60 tahun) pun memiliki pengaruh besar dalam kegagalan kesembuhan pasien. Adanya efek samping dan komorbiditas harus memerlukan pengawasan yang ketat, koordinasi rumah sakit dengan dinas kesehatan pun sangat penting dalam pengadaan obat-obatan dalam kesembuhan TBC pada pasien.

Penulis :

dr. Sumardi Sp.PD-KP

Sumber : Sarwani, dkk. 2012. Faktor Risiko Multidrug Resistant Tuberculosis. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 8(1). 60-66.

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.