Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Penatalaksanaan Hipertensi Pada Kehamilan Dan Laktasi

Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu, janin, maupun neonatus. Hipertensi pada kehamilan ditandai dengan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg dalam pengukuran selama dua kali atau lebih dengan jarak waktu sekitar 6 jam bahkan lebih. Adapun prevalensi hipertensi pada ibu hamil mencapai 5-10% dari total kehamilan. Klasifikasi hipertensi pada kehamilan terbagi menjadi 6 jenis diantaranya Hipertensi Kronis dengan gejala tekanan darah ≥ 140/90 sebelum hamil ataupun 20 minggu dan menetap selama ≥ 2 minggu pasca persalinan; Preeklamsia dengan gejala tekanan darah ≥ 140/90 dan proteinuria > 300 mg/24 jam > 20 mgg; Hipertensi Kronis dengan gejala proteinuria baru > 20 minggu dari hipertensi sebelumnya; Superimposed Preaklamsia dengan gejala proteinuria < 20 mgg dari hipertensi sebelumnya dimana terjadi peningkatan proteinuria > 3 kali, peningkatan tekanan darah mendadak, trombositopenia, dan peningkatan SGOT & SGPT; Hipertensi Gestasional dengan gejala hipertensi tanpa proteinuria > 20 mgg dan Hipertensi Transien yang merupakan diagnosis retrospektif dimana tekanan darah kembali normal setelah 12 minggu pasca persalinan.

Penatalaksanaan hipertensi pada kehamilan dan laktasi terdiri dari dua jenis yaitu Penatalaksanaan Non Farmakologis dan Penatalaksanaan Farmakologis. Penatalaksanaan Non Farmakologis terdiri dari Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH), melakukan olahraga atau aktifikas fisik, mengurangi asupan natrium, hindari konsumsi alkohol, berhenti merokok, faktor psikologi dan stress, dan kalsium. Sedangkan Penatalaksanaan Farmakologis terdiri dari pemberian antihipertensi lebih dari 140/80 mmHg, apabila tekanan darah terlalu rendah maka turunkan perfusi uteroplasenta, target penurunan tekanan darah pada kehamilan adalah 140/90 mmHg dan tidak ada keuntungan yang didapatkan dengan menurunkan tekanan darah lebih rendah lagi, tekanan darah lebih dari 170/110 mmHg akan dianggap suatu kedaruratan medis dan dianjurkan untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit dimana tekanan darah harus diturunkan secepat mungkin, hipertensi ringan pada ibu menyusui dapat dipertimbangkan untuk penghentian obat sementara dengan pemantauan ketat tekanan darah, setelah menghentikan menyusui maka akan dilakukan terapi antihipertensi yang dapat diajukan kembali. Dalam mengatasi hipertensi pada ibu hamil maka akan dilakukan pengobatan dimana obat yang dianjurkan sebagai antihipertensi pada kehamilan dan laktasi diantaranya seperti Metildopa, Clonidine, CCB, Betablocker, Labetalol, Hydrochlortiazid, dan ACE-I & ARB.

Hipertensi pada kehamilan dan laktasi merupakan hipertensi dalam keadaan khusus, dimana hal ini berkaitan dengan sirkulasi uteroplasenta pada ibu dan janin saat kehamilan dan ekskresi obat melalui ASI. Pemantauan tekanan darah selama kehamilan dalam Ante Natal Care (ANC), saat persalinan, post partum, dan selama laktasi sangat penting dilakukan untuk mencegah perkembangan penyakit hipertensi lebih lanjut dan akhirnya menurunkan morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) baik ibu maupun janinnya.

Penulis :

Iri Kuswadi, Sp.PD.KGH, FINASIM

KSM Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.