Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Perempuan Berisiko Tinggi Terserang ‘Lupus’

Hingga saat ini, Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau biasa dikenal dengan Lupus, merupakan salah satu penyakit autoimun yang cukup ditakuti. Penyakit yang juga dikenal dengan sebutan ‘Seribu Wajah’ ini kerap menyerang berbagai organ dalam tubuh seseorang, mulai dari jantung, lever, paru-paru, ginjal dan organ penting lainnya.

Autoimun merupakan suatu kondisi ketika kekebalan di dalam tubuh seseorang yang seharusnya melindungi tubuh dari berbagai bakteri, kuman dan penyakit, justru menyerang atau merusak organ dalam tubuh sendiri. Mulai dari ginjal, lever, jantung, paru-paru dan semua bagian tubuh lainnya pun dapat terserang. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sementara, SLE atau Lupus hanya merupakan salah satu dari jenis penyakit autoimun yang paling banyak ditemui.

Autoimun bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Mulai dari bakat keturunan atau faktor genetik, lingkungan, hingga faktor infeksi sebelumnya yang mungkin dialami saat masih kecil.

Penyakit Lupus sebagai salah satu jenis Autoimun, juga dikenal sebagai penyakit ‘Seribu Wajah’. Ini karena gejalanya yang sangat beragam. Sangat mungkin, seseorang yang menderita Lupus, datang ke rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya pada kondisi hanya terserang pada salah satu bagian organ saja, seperti jantung, ginjal, atau lever.

Guna memastikan seseorang mengalami Autoimun, perlu dilakukan pemeriksaan secara bertahap dan seksama. Namun, ada sejumlah gejala awal yang dapat menjadi pertanda. Antara lain, sensitif dan tidak nyaman dengan matahari. Bahkan, enggan melihat matahari atau terpapar sinar matahari, hingga merasa sesak napas jika terkena sinar matahari.

Gejala lain yang juga biasa dialami seorang penderita Lupus adalah Malares atau kulit pipi sebelah kanan dan kiri memerah. Kemudian, muncul bercak-bercak merah atau coklat di seluruh tubuh. Juga sering mengalami artritis berupa sariawan dan nyeri, hingga sering merasa lemah, pusing serta mengalami kerontokan rambut.

Ketika Lupus sudah mulai menyerang organ bagian dalam seseorang, seperti jantung atau paru-paru, maka penderita biasanya akan mengalami sejumlah gejala seperti sesak napas. Jika yang diserang adalah ginjal, maka air kencingnya akan berbusa, sering mengalami pusing dan berbagai macam gejala lainnya.

Penanganan Lupus

Ada beberapa tahapan pemeriksaan yang harus dilakukan untuk meyakinkan seseorang menderita penyakit Lupus. Pemeriksaan ini cukup mahal, mulai dari tahap awal berupa pemeriksaan antinuclear antibody, pemeriksaan anti-dsDNA, hingga pemeriksaan komplemen C3 dan C4.

Sebagaimana penyakit lainnya, penderita Lupus terbagi menjadi tiga kategori. Yakni ringan, sedang dan berat. Penderita penyakit Lupus kategori berat, yang ditandai dengan gelaja kejang hingga sesak napas, bahkan tidak sadarkan diri, harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Penderita Lupus kategori berat harus diberikan obat dengan cara melalui infus.

Jenis obat yang biasa diberikan pada penderita Lupus adalah obat kategori imunosupresan. Obat ini bekerja untuk menekan sistem imun. Tujuannya agar serangan terhadap organ tubuh bisa dikendalikan atau dikurangi. Pasalnya, sistem imun pada penderita Lupus sudah terlalu kuat dan mengalami gangguan, sehingga justru menyerang tubuh sendiri.

Namun pemberian obat imunosupresan untuk menekan atau memblok sistem imun yang terlalu kuat, tentu memiliki risiko tersendiri. Salah satunya, pasien akan menjadi lebih rentan terkena infeksi. Karenanya, pengobatan dengan imunosupresan makin lama harus makin diminimumkan atau diturunkan untuk mengurangi risiko tersebut.

Penderita Lupus yang telah mendapatkan pengobatan imunosupresan, juga harus senantiasa waspada, mengingat dirinya mudah terkena infeksi. Misalnya, jika terkena flu tidak perlu obat antibiotik, maka dengan kondisi tersebut sejak awal perlu memperhatikan perlunya memakai obat antibiotik.

Mengingat penanganan Autoimun membutuhkan pemeriksaan bertahap, seksama, dan membutuhkan biaya mahal, sangat disarankan seseorang sejak awal sudah memiliki atau mengikuti program jaminan kesehatan, seperti BPJS.

Perlu diketahui pula, bahwa Autoimun lebih sering menyerang perempuan dewasa. Data menyebutkan, prevalensi perempuan terkena penyakit Lupus mencapai 80 hingga 85 persen. Sementara, laki-laki hanya 15 – 20 persen.

Perempuan memiliki risiko tinggi terkena Lupus, karena memiliki hormon esterogen lebih tinggi dari laki-laki. Terlebih bagi perempuan yang sudah mengalami menstruasi. Perempuan dalam kondisi hamil yang sedang mengalami peningkatan hormon, juga akan lebih mudah lagi terserang penyakit Lupus ini.

Meski demikian, makin tua usia seseorang, kemungkinan terserang penyakit Lupus akan makin menurun. Hal ini seiring dengan makin menurunnya tingkat hormon esterogen di dalam tubuhnya.

Narasumber :

Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR dan dr. Deddy Nur Wachid Achadiono, SpPD-KR., M.Kes.

KSM Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.