Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Osteoprosis

Osteoporosis adalah penyakit tulang yang mempunyai sifat khas berupa massa atau kepadatan tulang menurun yang mengakibatkan penurunan kualitas jaringan tulang yang akhirnya menimbulkan kerapuhan tulang. Osteoporosis merupakan salah satu penyakit degeneratif yang bisa menyerang siapa saja termasuk di usia muda.

International Osteoporosis Foundation (IOF) mengungkapkan bahwa 1 dari 4 perempuan di Indonesia dengan rentang usia 50-80 tahun memiliki risiko terkena osteoporosis. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI Tahun 2015 juga menyatakan risiko osteoporosis perempuan di Indonesia 4 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Risiko akan meningkat pada sebagian besar wanita setelah menopause dengan berkurangnya hormon estrogen. Osteoporosis tidak menampakkan tanda-tanda fisik yang nyata hingga terjadi keropos atau keretakan pada usia senja.

Tulang manusia terus beregenerasi dari waktu ke waktu dari tulang yang telah rapuh akan berganti dengan tulang baru. Saat masih kanak-kanak, tulang kita tumbuh dan mampu memperbaharui diri dengan cepat. Pada rentang usia 16 – 18 tahun, tulang perlahan akan berhenti tumbuh, sementara massa tulang akan terus bertambah hingga usia akhir 20 an. Namun proses ini melambat seiring dengan pertambahan usia manusia. Secara perlahan kepadatan tulang akan makin berkurang dan proses ini dimulai sekitar umur 35 tahun.

Faktor risiko terjadinya osteoporosis diantaranya:usia, wanita dengan menopause, adanya riwayat keluarga yang osteoporosis, kurangnya aktifitas fisik, konsumsi minuman beralkohol dan merokok, penyakit kelenjar tiroid, kurangnya konsumsi kalsium dan vitamin D, malabsorbsi atau ketidak mampuan usus untuk menyerap nutrisi dari makanan, dan konsumsi obat steroid jangka panjang.

Gejala osteoporosis pada sebagian orang tidak menimbulkan gejala tapi kadang kala pada sebagian muncul nyeri punggung, postur tubuh membungkuk, menurunnya tinggi badan atau adanya keretakan tulang tanpa riwayat trauma atau trauma minimal dan kejadian ini sering diketahui pada saat pemeriksaan.

Pemeriksaan Osteoporosis dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. BMD (Bone Mineral Density) atau tes kepadatan tulang yaitu pemeriksaan yang mengukur densitas / kepadatan mineral dalam tulang dengan sinar X khusus, CT Scan atau ultrasonografi. Pemeriksaan ini menunjukkan kepadatan tulang saat pemeriksaan dilakukan dan tidak bisa memprediksi densitas tulang pada waktu mendatang.
  2. Kadar Kalsium Darah, Kadar Kalsium (Ca) dalam darah menurun, kadar Fosfat (P/PO4) dalam darah meningkat disertai iPTH (Hormon Paratiroid) meningkat dan kadar Vitamin D3(25-OH) Total yang menurun.

Osteoporosis dapat menimbulkan bahaya, diantaranya:

  1. Patah Tulang (Bone Fractures)

Hilangnya kepadatan, tulang menjadi lebih mudah rapuh sehingga jatuh atau terpeleset bisa menyebabkan patah tulang terutama tulang pinggul.

  1. Fraktur Kompresi (Compression Fractures)

Tulang belakang juga akan menjadi rentan terhadap efek osteoporosis. Banyak penderita osteoporosis yang mengalami fraktur kompresi, kondisi dimana tulang belakang menjadi tumpang tindih antara satu dengan yang lainnya. Fraktur kompresi biasanya terjadi saat melakukan kegiatan sehari-hari seperti membungkuk dan mengangkat benda berat.

  1. Perubahan Penampilan

Fraktur kompresi yang disebabkan oleh osteoporosis bisa mengakibatkan kehilangan tinggi badan sekitar 15-20 persen dari tinggi semula. Hal ini disebabkan kondisi tulang belakang yang saling menumpuk atau tumpang tindih. Pada beberapa kasus, fraktur juga bisa menyebabkan kifosis (kyphosis), kondisi dimana tulang belakang melengkung yang terkadang disebut dengan bungkuk (humpback).

  1. Nyeri

Kondisi osteoporosis semakin memburuk sering mengalami nyeri tulang yang terlokalisasi di area tertentu, misalnya punggung, pinggul, leher, bahu, dan kaki.

  1. Kehilangan Keseimbangan

Nyeri yang timbul akibat osteoporosis sering menyebabkan tubuh lebih kaku untuk bergerak, sehingga berdampak negatif terhadap keseimbangan. Kondisi ini sering menyebabkan jatuh, yang bisa menyebabkan patah tulang, sehingga menciptakan siklus nyeri yang lebih parah karena patah tulang.

 Pencegahan osteoporosis dimulai sedini mungkin untuk mencapai massa tulang yang maksimal. Usaha yang bisa dilakukan untuk mencegah osteoporosis yaitu pola makan sehat dengan mengkonsumsi makanan yang kaya vitamin D dan Kalsium diantaranya brokoli, susu, keju,  pisang, jeruk, ikan sarden, kacang-kacangan, bayam, sayuran hijau dan ikan, tidak merokok, rajin berolah raga minimal 30 menit 5 kali dalam seminggu, jaga berat badan berat badan ideal, waspadai nyeri tulang danlakukan tes pemeriksaan dini osteoporosis saat menopause.

 

Penulis: Ediana Kurniawati, SKM – Unit Promosi Kesehatan RSUP Dr Sardjito

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.