Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) Pada Remaja

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau sindrom polikistik ovarium adalah kelainan hormonal yang paling sering terjadi pada wanita remaja dan wanita usia subur di dunia. Angka kejadian PCOS bervariasi antara 1,8% dan 15% tergantung etnis, latar belakang dan kriteria diagnostik yang digunakan. Manifestasi klinis yang timbul bisa bermacam-macam. Pada dasarnya PCOS ditandai dengan gangguan siklus menstruasi, kadar hormon androgen (hormon pria) pada seorang wanita meningkat hal ini ditandai dengan gejala klinis atau dinilai oleh data laboratorium serta bentuk sel telur seperti gambaran kista-kista kecil pada pemeriksaan USG.

Wanita remaja dengan PCOS berisiko mengalami gangguan kualitas hidup termasuk gangguan siklus menstruasi, gangguan kesuburan, gangguan psikologis dan perilaku termasuk depresi, gangguan bipolar, kegelisahan dan gangguan makan. Selain itu, gangguan metabolik sangat berhubungan dengan peningkatan risiko klinis sindromametabolik, seperti obesitas dan diabetes.

Walaupun PCOS tidak dapat sembuh secara komplit, namun terdapat beberapa pilihan pengobatan yang dapat membantu mengurangi gejala penyakit. Kebanyakan wanita remaja dengan PCOS dapat hidup dengan normal tanpa komplikasi yang berarti.

Sindrom polikistik ovarium (PCOS) merupakan salah satu dari masalah kesehatan reproduksi yang paling sering terjadi pada wanita remaja. Sindrom polikistik ovarium (PCOS) adalah kondisi kompleks yang didiagnosis dengan adanya dua dari tiga kriteria berikut: kelebihan kadar hormon androgen, gangguan ovulasi, dan gambaran sel telur yang berbentuk kista-kista kecil. Dikarenakan ketiga gejala tersebut dapat terjadi pada penyakit selain PCOS, sehingga perlu anamnesis riwayat dan pemeriksaan fisik untuk memastikan penyebabnya. PCOS dianggap sebagai masalah ovulasi dan infertilitas, yang ditandai dengan haid tidak teratur, obesitas, gangguan fungsi insulin , hirsutisme, jerawat, alopesia dan keguguran berulang.

Faktor Risiko Dan Penyebab

Penyebab PCOS belum diketahui pasti. Teori primer pada kelainan metabolik menunjukkan bahwa kompensasi gangguan fungsi insulin dengan akibat kadar hormon insulin yang berlebih merupakan penyebab utama gambaran PCOS.  Beberapa penyebab lain dari PCOS adalah sebagai berikut: kerentanan genetik, ketidakseimbangan hormonal dan pil kontrasepsi. Faktor genetik dan lingkungan (misalnya status sosial ekonomi, gaya hidup) berperan terhadap varians etnis pada PCOS yang juga penting dipertimbangkan dalam mengembangkan strategi individual untuk mengobati PCOS.

Pada wanita dengan PCOS, beberapa folikel kecil (kista kecil berdiameter 4 hingga 9 mm) menumpuk di ovarium, oleh karena itu disebut ovarium polikistik. Tak satu pun dari folikel kecil ini yang mampu tumbuh hingga menjadi ukuran yang akan memicu ovulasi. Akibatnya, kadar estrogen, progesteron, LH, dan FSH menjadi tidak seimbang. Androgen dapat meningkat pada wanita dengan PCOS karena tingginya kadar LH dan juga kadar insulin yang biasanya terlihat pada pasien dengan PCOS.

Gejala Klinis

Tanda dan gejala PCOS biasanya mulai sekitar masa pubertas, meskipun beberapa wanita tidak mengalami gejala sampai akhir masa remaja atau bahkan sampai awal masa dewasa. Gejala yang sering dialami oleh pasien-pasien PCOS usia remaja yaitu adanya gangguan dari siklus menstruasi dan gejala akibat kenaikan kadar hormon androgen (hormon pria).

Siklus menstruasi yang tidak teratur atau bahkan periode menstruasi yang tidak datang sama sekali (amenore) sering dijumpai pada pasien remaja dengan PCOS. Siklus yang tidak teratur ini merupakan tanda bahwa tidak terjadi ovulasi pada setiap siklusnya. Jika ovulasi tidak terjadi, lapisan rahim (disebut endometrium) menjadi lebih tebal dan dapat luruh secara tidak teratur, yang dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan memanjang. Periode menstruasi yang tidak teratur atau tidak ada menstruasi sama sekali dapat meningkatkan risiko wanita mengalami pertumbuhan berlebih endometrium (disebut hiperplasia endometrium) atau bahkan kanker endometrium. Gambaran gangguan menstruasi berikut ini menunjukkan suatu periode menstruasi yang tidak normal pada remaja :

  • Amenore primer : Tidak terdapat menstruasi sampai usia 15 tahun (atau pada usia tulang 15 tahun, jika terdapat tanda pubertas lebih dini) atau lebih dari tiga tahun setelah perkembangan payudara.
  • Amenore sekunder : Suatu keadaan dimana didapatkan lebih dari 90 hari tanpa periode menstruasi, setelah menstruasi sebelumnya.
  • Oligomenore : Selama lima tahun setelah menarche (menstruasi pertama), oligomenore didefinisikan sebagai :
  • Tahun pertama setelah menarche : Kurang dari empat periode dalam setahun (panjang siklus rata-rata lebih dari 90 hari antara periode menstruasi).
  • Tahun kedua setelah menarche : Kurang dari enam periode dalam setahun (panjang siklus rata-rata lebih dari 60 hari).
  • Tahun ketiga sampai kelima setelah menarche : Kurang dari delapan periode per tahun, yaitu hilang lebih dari empat periode per tahun (rata-rata panjang siklus lebih dari 45 hari).
  • Perdarahan uterus yang berlebihan (dulu disebut perdarahan uterus disfungsional), didefinisikan sebagai perdarahan menstrusi yang terjadi dengan jarak kurang dari 21 hari antar siklusnya atau perdarahan yang terjadi lebih dari 7 hari setiap siklus menstruasi.

Karena perubahan hormon bervariasi dari satu wanita ke wanita lain, pasien dengan PCOS mungkin memiliki jerawat ringan hingga parah, pertumbuhan rambut wajah, atau rambut rontok pada kulit kepala. Jerawat adalah kondisi kulit yang disebabkan oleh kulit berminyak dan penyumbatan pada folikel rambut. Jerawat yang berlebihan adalah salah satu bentuk gejala pada kulit akibat kadar hormon androgen yang tinggi pada wanita remaja. Tingkat keparahan jerawat dapat dinilai berdasarkan jumlah lesi, adanya lesi sedang (> 10 lesi wajah) atau jerawat radang parah selama bertahun-tahun pada usia sekitar menarche. Terdapat konsensus yang mengatakan bahwa jerawat meradang dengan derajat sedang hingga berat yang kurang responsif terhadap pengobatan merupakan indikasi untuk menguji kadar hormon androgen. Pertumbuhan rambut pola pria (hirsutisme) dapat dilihat pada bibir atas, dagu, leher, daerah cambang, dada, perut bagian atas atau bawah, lengan atas, dan paha bagian dalam. Tingkat keparahan hirsutisme ini dinilai berdasarkan sistem Ferriman-Gallwey yang mengukur tingkat pertumbuhan rambut di area yang paling peka terhadap hormone androgen. Hirsutisme didefinisikan sebagai skor 8 atau lebih pada populasi wanita dewasa di Amerika Serikat dan bergantung etnis pada populasi lainnya.

Diagnosis

PCOS pada remaja biasanya dikenali dari gejala siklus mensturasi yang abnormal dan gejala hiperandrogen, namun sepertiga dari kasus yang datang ke dokter, kebanyakan pasien mengeluhkan gejala akibat hisrsutisme dan gejala terkait metabolik seperti obesitas dan acanthosis nigricans, dimana biasanya kelainan pola menstruasi belum terlihat jelas pada pasien remaja.

Kriteria diagnostik untuk PCOS pada remaja terdiri dari kumpulan gejala seperti tidak normalnya periode menstruasi yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya dan adanya bukti kenaikan level hormon androgen sebagaimana dirangkum dalam tabel dibawah. Kriteria ini dikembangkan pada tahun 2015 oleh panel konsensus yang diselenggarakan oleh Pediatric Endocrine Society (PES).

Kombinasi gejala-gejala pada pasien POCS usia remaja:

  1. Pola pendarahan uterus yang tidak normal
  2. Abnormal berdasarkan standar usia populasi
  3. Gejala yang menetap dalam 1-2 tahun
  4. Kejadian Hiperandrogen
  5. Kenaikan nilai hormon testosterone diatas nilai normal dewasa
  6. Hirsutisme derajat sedan-berat
  7. Radang jerawat derajat sedang-berat

Pengobatan

Pilihan terapi pasien PCOS pada usia remaja tergantung pada gejala yang muncul pada setiap individu remaja dan tujuan dari terapi tersebut. Sehingga pengobatan yang diberikan apakah untuk mengobati keluhan jerawat, periode menstruasi yang abnormal atau keluhan terkait hirsutisme.

Pilihan pengobatan untuk keluhan jerawat dapat diobati dengan pengobatan yang diberikan melalui kulit seperti antibiotik, pemberian sediaan hormon kombinasi estrogen dan progesteron melalui oral (dapat juga meregulasi siklus haid), atau pil spironolakton yang dapat memblok hormon androgen penyebab jerawat.

Periode menstruasi yang abnormal dapat diobati dengan berbagai cara. Banyak dokter menggunakan pil kontrasepsi oral, yang mengandung hormon estrogen dan progesteronuntuk mengatur siklus menstruasi pasien. Pilihan terapi lain yaitu dengan menggunakan pil progesterone yang diberikan selama 5-10 hari setiap 1-3 bulan dan penggunaan patch estrogen dan progesteron. Beberapa pasien tidak dapat menggunakan beberapa pilihan terapi ini karena alasan kondisi kesehatan sehingga diperlukan informasi yang menyeluruh berkaitan dengan riwayat medis dan keluarga dari pasien.

Pertumbuhan rambut pola pria (hirsutisme) dapat dikurangi dengan penggunaan pengobatan estrogen dan progesteron (kontrasepsi oral) dan atau penggunaan pil spironolakton. Beberapa pasien remaja juga mencoba cara yang berbeda untuk mengurangi gejala hirsutisme ini yaitu dengan pengobatan laser, waxing dan pencukuran (shaving). Pengobatan dengan Vaniqua dapat digunakan dua kali sehari yang dioleskan pada area pertumbuhan rambut yang tidak diinginkan. Namun sayangnya pengobatan ini tidak ditanggung oleh asuransi dan harus digunakan setiap hari.

Pilihan pengobatan lainnya yang dianjurkan yaitu dengan modifikasi gaya hidup. Olahraga selama 150 menit dengan terjadinya peningkatan denyut jantung setiap minggu membantu menurunkan kejadian resistensi insulin pada pasien dengan PCOS. Diet sehat tanpa konsumsi minuman manis seperti soda dan konsumsi karbohidrat serta makanan cepat saji juga membantu untuk menurunkan resistensi insulin dan berat badan dimana akan sangat membantu menguragi gejala-gejala pada pasien PCOS remaja.

Simpulan

PCOS harus dipertimbangkan pada gadis remaja dengan keluhan utama hirsutisme, pola menstruasi yang tidak teratur, obesitas, acanthosis nigricans, jerawat yang tidak sembuh dengan pengobatan dan kerontokan rambut kepala. PCOS terutama ditandai oleh disfungsi ovulasi dan hiperandrogenisme. Diagnosis PCOS memiliki dampak seumur hidup dengan peningkatan risiko infertilitas, sindroma metabolic, diabetes melitus tipe 2 dan implikasi kesehatan lainnya termasuk kemungkinan penyakit kardiovaskuler dan karsinoma endometrium.

Pengobatan untuk PCOS pada usia remaja terutama bersifat simptomatik dan diarahkan pada gejala klinis yang utama, seperti perdarahan uterus abnormal (ketidakteraturan menstruasi atau perdarahan berlebihan), hiperandrogenisme kulit terutama hirsutisme dan jerawat persisten, obesitas dan resistensi insulin. Modifikasi gaya hidup merupakan salah satu usaha atau cara yang relative sederhana dan mudah untuk dilakukan oleh pasien remaja dengan PCOS, sehingga dapat membantu mengurangi gejala penyakit terkait PCOS.

Penulis :

Akbar Novan Dwi Saputra, SpOG-KSM Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. Sardjito

Sumber :

  1. Rosenfield RL. The Diagnosis of Polycystic Ovary Syndrome in Adolescents. Pediatrics 2015;136:1154.
  2. Twig G, Yaniv G, Levine H, et al. Body-Mass Index in 2.3 Million Adolescents and Cardiovascular Death in Adulthood. N Engl J Med 2016; 374:2430.
  3. McCartney CR, Marshall JC. Clinical Practice. Polycystic Ovary Syndrome. N Engl J Med 2016; 375:54
  4. Martin KA, Anderson RR, Chang RJ, et al. Evaluation and Treatment of Hirsutism in Premenopausal Women: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline. J Clin Endocrinol Metab 2018; 103:1233.
  5. Styne DM, Arslanian SA, Connor EL, et al. Pediatric Obesity- Assessment, treatment and prevention: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline. J Clin Endocrinol Metab 2017; 102: 709.
  6. Adeniji AA, Essah PA, Nestler JE, cheang KI. Metabolic Effects of a commonly used combined hormonal oral contraceptive in women with and without polycystic ovary syndrome. J Womens health (Larchmt) 2016;25:638.
  7. Wong JM, Gallagher M, Gooding H, et al. A randomized pilot study of dietary treatments for polycystic ovary syndrome in adolescents. Pediatr Obes 2016;11:210.
Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.