Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Selenium Dalam Kehamilan

Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat dan dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan, persalinan dan nifas. Tiga penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan (30%), hipertensi dalam kehamilan (25%), dan infeksi (12%).

Salah satu bentuk dari hipertensi dalam kehamilan adalah preeklampsia. Preeklampsia sering dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas ibu dan janin. Di seluruh dunia, sekitar 10 juta wanita hamil mengalami preeklampsia dan sekitar 76.000 wanita meninggal karena preeklampsia dan gangguan hipertensi terkait. Di negara berkembang, seorang wanita tujuh kali lebih beresiko terjadi preeklampsia dibandingkan wanita di negara maju. Sekitar 10-25% dari kasus ini akan menyebabkan kematian ibu. Pada penderita preeklamsia, dengan adanya maladaptasi yang menyebabkan terjadinya hipoksia jaringan trofoblas, akan timbul peningkatan produksi radikal bebas seperti reactive oxygen species (ROS) akibat perangsangan neutrofil, makrofag dan sel limfosit T.

Radikal bebas adalah suatu atom ataupun molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan, sifatnya sangat reaktif dan mengakibatkan terjadinya reaksi berantai, yang akan mengakibatkan kerusakan pada tingkat molekul dan selanjutnya pada tingkat jaringan. Radikal bebas secara normal dapat dihasilkan dari proses fisiologis, namun dalam keadaan patologis (misalnya iskemia jaringan) jumlahnya akan meningkat. Bila keadaan ini tidak dapat diantisipasi oleh tubuh, maka terjadi ketidakseimbangan antara prooksidan ROS dan antioksidan endogen, sehingga akan timbul berbagai gangguan. Pada pasien preeklampsia, ketidakseimbangan ini merupakan faktor yang terjadinya stress oksidatif plasenta yang akan meningkatkan proliferasi trofoblas dan pelepasan trofoblas ke dalam sirkulasi ibu. Respon imun yang timbul akan menjadi buruk dan mengarah pada disfungsi endotel, serta manifestasi gejala pada pasien preeklampsia. Antioksidan adalah unsur kimia atau biologi yang dapat menetralisasi potensi kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas. Penelitian terakhir menemukan bahwa antioksidan dapat digunakan sebagai salah satu terapi dari preeklampsia. Salah satu jenis antioksidan adalah selenium.

Selenium (Se) adalah mikronutrien penting pada kesehatan manusia. Terdapat dua jenis Selenium, yaitu selenium organik yang terdiri dari selenocysteine dan selenomethionine, serta selenium anorganik yang terdiri dari selenit dan selenat. Makanan adalah sumber utama Selenium dan kadarnya bergantung pada kandungan Se dalam tanah. Kandungan Selenium dalam tanaman bergantung pada jenis spesies tumbuhan dan selenium yang terkandung di dalamnya.  Daging dan ikan memiliki kandungan Selenium yang lebih stabil dari asupan Se, umumnya sekitar 40-50% dari total Se yang dikonsumsi.

Berbagai penelitian yang telah dilakukan menunjukkan berbagai manfaat suplementasi selenium dalam mempertahankan fungsi imun-endokrin, siklus metabolisme, homeostasis seluler, dan perannya dalam mencegah berbagai penyakit. Selain itu, ditemukan bahwa Se berperan sebagai antioksidan melalui  aktivitas glutathione peroxidase (GPx), yaitu enzim yang memainkan peran utama dalam perlindungan terhadap stres oksidatif.

 Peranan Antioksidan dalam Kehamilan

Kehamilan dan persalinan adalah suatu peristiwa fisiologis yang ditemui sehari-hari. Kehamilan adalah periode peningkatan kebutuhan metabolik dengan perubahan fisiologi wanita dan kebutuhan janin yang sedang tumbuh. Sejumlah mikronutrien berfungsi sebagai kofaktor penting yang bertindak sebagai antioksidan. Stres oksidatif dihasilkan selama perkembangan plasenta normal. Namun, ketika pasokan mikronutrien antioksidan terbatas, stres oksidatif dalam plasenta dan sirkulasi ibu akan meningkat dan menghasilkan outcome yang buruk.

Suplai vitamin esensial dan mikronutrien yang tidak mencukupi dapat menyebabkan persaingan biologis antara ibu dan janin, yang dapat merusak status kesehatan keduanya. Defisiensi mikronutrien selama kehamilan berkaitan erat dengan mortalitas dan morbiditas pada bayi baru lahir. Kekurangan aktivitas antioksidan spesifik yang terkait dengan mikronutrien seperti selenium, tembaga, zink, dan mangan dapat mengakibatkan hasil kehamilan yang buruk, termasuk hambatan pertumbuhan janin, preeklampsia dan peningkatan risiko penyakit terkait pada masa dewasa, termasuk penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.

 Antioksidan adalah unsur kimia atau biologi yang dapat menetralisasi potensi kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas. Antioksidan bekerja dengan melindungi lipid dari proses peroksidasi oleh radikal bebas. Ketika radikal bebas mendapat elektron dari antioksidan, maka radikal bebas tersebut tidak lagi perlu menyerang sel dan reaksi rantai oksidasi akan terputus. Beberapa antioksidan endogen (seperti enzim superoxide-dismutase dan katalase) dihasilkan oleh tubuh, sedangkan yang lain seperti vitamin A, C, E, dan Selenium merupakan antioksidan eksogen yang harus didapat dari luar tubuh seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.

 Selenium

A. Sejarah Selenium

Selenium (Se) berasal dari bahasa Yunani, “Selene” dan telah ditemukan sejak tahun 1817 sebagai mikronutrien hasil sampingan dari produksi asam sulfat yang diproduksi oleh Swedish chemist Jons Jacob Berzelius. Selenium awalnya dianggap sebagai racun karena menyebabkan penyakit pada hewan ternak di dataran Nebraska dan wilayah Dakota. Penyakit ini ditemukan pada tahun 1856 oleh seorang ahli bedah tentara bernama T.C. Madison, yang bertugas di Fort Randall,  Nebraska utara. Kuda-kuda tentara yang merumput bebas di sekitar benteng menderita penyakit nekrosis pada kuku dan kerontokan pada rambut ekor serta kepala kuda. Pada pertengahan tahun 1930-an, Franke melaporkan penyakit ini disebabkan karena memakan tanaman seleniferus, yang memiliki kadar selenium yang tinggi dari tanah.

Selenium terus dianggap sebagai racun dan karsinogen, sampai tahun 1957 ketika Schwartz dan Foltz menemukan bahwa selenium dapat mencegah nekrosis pada hepar tikus dengan menggunakan suplementasi selenium dosis rendah. Hal ini menjadi titik awal penemuan selenium sebagai mikronutrien esensial. Lalu pada tahun 1973, ditemukan bahwa Se adalah komponen integral yang diperlukan untuk aktivitas glutathione peroxidase (GPx), yaitu enzim yang memainkan peran utama dalam perlindungan terhadap cedera oksidatif. Sejak itu, dilakukan berbagai penelitian yang menunjukkan berbagai manfaat suplementasi selenium dalam mempertahankan fungsi imun-endokrin, siklus metabolisme, homeostasis seluler, dan perannya dalam mencegah berbagai penyakit.

B. Selenium sebagai Antioksidan

Dalam dekade terakhir ini, konsep dari radikal bebas memicu stres oksidatif, ini menjadi suatu momentum untuk mempelajari patofisiologi penyakit untuk suatu tujuan terapeutik. Sering kali stres oksidatif dianggap sebagai faktor yang berperan untuk terjadinya berbagai penyakit. Untuk mengatasinya, intervensi dengan antioksidan diberikan untuk menurunkan efek stres oksidatif dari radikal bebas yang terdapat di dalam tubuh. Radikal bebas merupakan suatu molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan dalam orbital terluarnya sehingga sangat reaktif. Radikal ini cenderung mengadakan reaksi berantai yang apabila terjadi di dalam tubuh akan dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan yang berlanjut dan terus menerus. Tubuh manusia memiliki sistem pertahanan endogen terhadap serangan radikal bebas terutama terjadi melalui peristiwa metabolisme sel normal dan peradangan. Jumlah radikal bebas dapat mengalami peningkatan yang diakibatkan faktor stress, radiasi, asap rokok dan polusi lingkungan menyebabkan sistem pertahanan tubuh yang ada tidak memadai.

Antioksidan adalah suatu molekul kimia yang mampu menghambat oksidasi dari molekul-molekul lain. Keseimbangan antara prooksidan dan antioksidan pada organisme aerobik merupakan kondisi yang kritis. Jika keseimbangan mengarah pada prooksidan maka akan terjadi proses pengrusakan yang disebut stres oksidatif  Untuk melindungi tubuh dan mengurangi dampak negatif dari serangan radikal bebas, tubuh memerlukan antioksidan. Selenium merupakan salah satu dari antioksidan tersebut.

Selenium dianggap residu selenocysteine dalam sintesis protein untuk menghasilkan selenoenzim  seperti glutation peroksidase (GPx), thioredoxin reduktase, dan selenoprotein P. Selenoenzime ditemukan memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Glutation peroksidase Terbagi dalam enam kelompok, yaitu GPx – GPx1, GPx3, GPx4, GPx5 dan GPx6. GPx ini memainkan peran penting dalam melindungi sel terhadap kerusakan oksidatif dari reactive oxygen species (ROS) dan reactive nitrogen species (RNS), yang meliputi superoksida, hidrogen peroksida, radikal hidroksil, oksida nitrat dan peroksinitrit.

 Antioksidan selenoenzim lainnya adalah TrxR. Thioredoxin (Trx) digunakan sebagai substrat untuk mempertahankan sistem Trx/ TrxR dalam keadaan penurunan pembuangan hydrogen proksida yang berbahaya. Ada tiga jenis TrxR yang telah diidentifikasi, yaitu cytosolic TrxR1, mitochondrial TrxR2 dan spermatozoa-spesific TrxR, (SpTrxR). Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa selenoprotein mungkin juga memainkan peran penting sebagai  antioksidan dalam mencegah serangan dari ROS dan RNS yang berbahaya.

C. Sumber Selenium

Makanan adalah sumber utama Selenium dan kadarnya bergantung pada kandungan Se dalam tanah. Kandungan selenium pada tanaman sangat bervariasi sesuai dengan zona geografis. Di seluruh dunia, ada daerah yang miskin kandungan selenium, seperti di Australia dan Asia. Asupan harian selenium bergantung pada konsentrasinya dalam makanan, jumlah makanan yang dikonsumsi, bentuk kimia dari unsur, dan bioavailabilitasnya. Harus diingat bahwa penyerapan, distribusi jaringan, dan retensi tubuh selenium tergantung pada unsur kimia yang ada dalam makanan. Oleh karena itu, penting untuk menentukan kandungan selenium dalam makanan yang biasa dikonsumsi untuk memperkirakan asupan harian selenium di setiap wilayah dan berbagai spesies dengan kadar selenium di dalamnya, seperti tanaman Allium, ragi selenized, ikan dan ayam segar atau dimasak. Sebagai contoh, diamati bahwa sebagian besar selenium dalam bawang putih dan ragi adalah dalam bentuk γ-glutamil-Semethilselenocysteine ​​(73%) dan selenomethionine (85%) masing-masing, dan selenium dalam bawang putih secara signifikan lebih efektif dalam menekan perkembangan lesi premalignan dan pembentukan adenokarsinoma pada kelenjar susu tikus yang diobati dengan karsinogen.

Secara umum selenat mudah diserap dan diangkut melalui tanaman karena kemiripannya dengan sulfat. Namun, selenit lebih cepat berubah menjadi asam seleno-amino. Penggantian asam amino metionin dan sistein akan memberikan perubahan dalam struktur protein yang mempengaruhi fungsi tanaman. Oleh karena itu, sintesis non-protein asam seleno-amino pada tumbuhan, seperti γ-gluthamil-selenomthylselenocysteine ​​dan selenomethylselenocysteine, telah diusulkan sebagai mekanisme toleransi. Kandungan Selenium dalam tanaman bergantung pada jenis spesies tumbuhan dan selenium yang terkandung di dalamnya.  Daging dan ikan memiliki kandungan Selenium yang lebih stabil dari asupan Se, umumnya sekitar 40-50% dari total Se yang dikonsumsi.

D. Selenium sebagai Salah Satu Marker Preeklampsia

Selenium (Se) merupakan salah satu jenis antioksidan. Mineral Se esensial yang bekerja melalui selenoprotein/selenoenzim memiliki kapasitas untuk mengurangi resiko preeklampsia dengan memanfaatkan fungsi antioksidannya. Penelitian yang dilakukan Xu et al menunjukkan suplementasi selenium secara signifikan dapat menurunkan kejadian preeklampsia. Dalam sebuah studi epidemiologi lainnya, didapatkan korelasi positif antara status Se dan kejadian preeklampsia di empat puluh lima negara. Suplementasi Se pada wanita Tionghoa yang dianggap berisiko terkena hipertensi diinduksi kehamilan atau pregnancy-induced hypertension (PIH) menunjukkan angka yang rendah pada terjadinya PIH dan edema gestasional, yang merupakan dua dari tanda preeklampsia. Serum/plasma Se dan konsentrasi plasma dari glutathione peroxidase (GPx) secara signifikan lebih rendah pada preeklampsia daripada kehamilan normal.

Penyebab turunnya konsentrasi Se dalam darah saat kehamilan disebabkan oleh transfer Se ke janin oleh plasma selenoprotein P (SEPP1), yang merupakan komponen mayor plasma Se yang mengangkut Se ke jaringan lain. Hal ini telah dibuktikan oleh sebuah studi oleh Burk dkk pada tikus hamil yang mengidentifikasi dua mekanisme transfer Se. Dari awal sampai pertengahan kehamilan, plasma GPx dan SEPP1 diangkut via cairan uterus, mungkin dengan pinositosis, sedangkan di paruh terakhir kehamilan, transfer plasenta ibu SEPP1 terjadi melalui reseptor apoE 2. Pada tikus dengan kadar Se plasma normal, konsentrasi plasma SEPP1 turun drastis pada akhir kehamilan dengan rebound tajam sehari setelah persalinan.

Sebuah penelitian pada tahun 2014 yang dilakukan Profesor Margaret P. Rayman dan rekan-rekannya melaporkan pada 230 wanita yang baru pertama kali hamil dibagi menjadi dua kelompok perlakuan. Kelompok pertama diberikan suplemen selenium dan kelompok lainnya diberikan tablet placebo. Perawatan dimulai pada 12 hingga 14 minggu kehamilan dan berlanjut sampai wanita melahirkan. Para peneliti mengukur konsentrasi selenium seluruh wanita pada awal kehamilan dan pada kehamilan 35 minggu. Selain itu juga diukur konsentrasi plasma selenoprotein P (SEEP1) wanita pada 35 minggu. Dari hasil penelitian didapatkan konsentrasi selenium darah meningkat secara signifikan pada  kelompok yang diberikan suplemen selenium dan konsentrasi selenium wanita hamil pada kelompok plasebo menurun secara signifikan. Pada minggu ke-35, konsentrasi whole-blood selenium dan konsentrasi selenoprotein P pada wanita dalam kelompok perlakuan suplemen selenium secara signifikan lebih tinggi daripada konsentrasi selenium pada kelompok placebo.

Pencegahan primer dilakukan dengan menghindari penyakit preeklampsia. Namun hingga saat ini penyebab pasti terjadinya preeklampsia masih belum diketahui. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rayman et al (2014) yang dilakukan secara in vivo dan in vitro, suplementasi selenium dapat mengurangi angka kejadian preeklampsia pada ibu hamil dan merupakan penatalaksanaan mutakhir yang mungkin dapat dilaksanakan diseluruh dunia khususnya Indonesia. Sampai saat ini temuan biomarker masih diteliti secara detail untuk menurunkan angka preeklampsia. Selanjutnya perlu dilakukan uji sensitivitas dan spesifitas yang tinggi  dan dibutuhkan serangkaian pemeriksaan yang kompleks agar dapat menilai penyebab preeklampsia dengan lebih baik.

Penulis :

dr. Akbar Novan Dwi Saputra, Sp.OG-KSM Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. Sardjito

Sumber :

  1. Djohan, W.H., Rodiani. Konsumsi Suplementasi Selenium untuk Mengurangi Kejadian Preeklampsia. Jurnal Agromed Unila. Desember 2017; Vol 4, No.2.
  2. Kuklina EV, et al. Hypertensive Disorders and Severe Obstetric Morbidity in the United States. Obstet Gynecol 2009; 113:1299-306.
  3. Maternal mortality in 2005: estimates developed by WHO, UNICEF, UNIFPA and the World Bank, Geneva, World Health Organization, 2007.
  4. Iorio, E.L. The Measurement of Oxidative Stress. International Observatory of Oxidative Stress, Free Radicals and Antioxidant Systems. Special supplement to Bulletin. 2007.
  5. Barciela, J.,C. Herrero, S.G. Martin, R.M. Pena. A brief study of the role of Selenium as antioxidant. 2014. EJEAFChe. 2008; 7 (8),[3151-3155].
  6. Tinggi, U. Selenium: its role as antioxidant in human health. Environ Health Prev Med. 2008 Mar; 13(2): 102–108.
  7. Wang, N., H.Y. Tan, S. Li, Y. Xu, W. Guo, Y. Feng. Supplementation of Micronutrient Selenium in Metabolic Diseases: Its Role as an Antioxidant. Oxidative Medicine and Cellular Longevity. 2017: 1-13
  8. K. Wrobel, R. Power, and M. Toborek. Biological activity of selenium: revisited. IUBMB Life. 2016; vol. 68, no. 2, pp. 97–105.
  9. Chaiworapongsa T, Chaemsaithong P, Yeo L, Romero R. Pre-eclampsia part 1: current understanding of its pathophysiology. Nature Reviews Nephrology. 2014 Aug 1;10(8):466-80.
  10. Rayman, M.P., et al. Effect of selenium on markers of risk of pre-eclampsia in UK pregnant women: a randomised, controlled pilot trial. British Journal of Nutrition. 2014;(112): 99–111
  11. Mistry, H.D., P.J. Williams. The importance of Antioxidant Micronutrient in Pregnancy. Hindawi Publishing Corporation Oxidative Medicine and Cellular Longevity. 2011, Article ID 841749, 12 pages.
  12. Hatfield, D.L., P.A. Tsuji, B.A. Carlson, V.N. Gladyshev. Selenium and selenoocysteine: role in cancer, health, and development. Trends in Biochemical Sciences xx. 2014; 1–9
  13. Bjelakovic G, Nikolova D, Simonetti RG, Gluud C. Anti-oxidant supplements for prevention of gastrointestinal cancers: a systematic review and meta-analysis. 2004; 364:1219-28.
  14. Thomson, CD. Assesment of requirements for selenium and adequacy of selenium status: a review. E J Clinic Nutr. 2004;58:391-402.
  15. Klotz LO, Kroncke KD, Buchczyk DP, Sies H. Role of copper, zinc, selenium, tellurium in the cellular defense against oxidative and nitrosative stress. J Nutr. 2003;133:1448S–51S.
  16. Tamas, Peter. Hantosi, Aszter and Bodis, Jozsef. 2010. Hypertensive disorders of pregnancy : theory of hypoperfusion and hyperperfusion of preeclampsia. Hungary : Pees University.
  17. Perkins, Anthony. 2011. Placental oxidative stress, selenium and preeclampsia. Pregnancy Hypertension : an international journal of women’s cardiovascular healt. Australia : Griffith University
Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.