Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Waspadai Diabetes Berujung Kebutaan

Masih banyak masyarakat belum menyadari jika diabetes melitus (DM) dapat menyebabkan kebutaan. Ini terjadi jika diabates telah menimbulkan gangguan pada retina mata (retinopati diabetika). Kebutaan mata akibat gangguan pada retina akan bersifat permanen. Selain kurangnya kepedulian masyarakat akan risiko berat dari diabetes melitus, gangguan mata pada retina seringkali juga tak disadari gejalanya. Ini karena secara anatomi, retina berada di bagian belakang, setelah katarak.

Seorang pasien dengan diabetes melitus, terutama tipe dua, ketika berisiko kebutaan sudah tidak bisa diatasi. Hal ini berbeda dengan katarak, yang dapat disembuhkan melalui operasi. Karena itu, kebijakan nasional dan internasional menyarankan setiap pasien diabetes melitus tipe dua untuk periksa mata. Ini untuk mencegah keterlambatan yang bisa berujung pada kebutaan.

Seorang pasien dewasa ketika terdiagnosa diabetes melitus, sangat dimungkinkan sudah mengalami diabetes melitus beberapa tahun sebelum terdiagnosa. Inilah yang mendasari kebijakan untuk periksa mata bagi pasien diabetes melitus. Yakni, untuk mencegah atau mendeteksi secara dini adanya komplikasi diabetes melitus pada retina. Sangat mungkin diabetes melitus tertangani dengan baik. Namun, jika suatu saat berikutnya pasien mengalami pandangan kabur, hal ini sudah terlambat. Dengan kata lain, pencegahan komplikasi diabetes melitus pada retina harus benar-benar dilakukan sejak dini. Sementara itu, pada anak yang mengalami diabetes melitus sebagai kelainan bawaan, disarankan periksa mata lima tahun setelah terdiagnosa diabetes melitus.

Secara umum diabetes melitus dapat menyebabkan komplikasi berat pada mata, jika selama tujuh tahun tidak tertangani dengan baik. Mulai dari katarak yang lebih awal, kornea kering dan pandangan kabur, hingga yang paling dikhawatirkan, yaitu retina. Jika pandangan kabur karena gangguan pada retina, akan sulit diatasi. Kondisi demikian hanya bisa ditangani untuk dipertahankan, atau agar kekaburan pandangan tidak bertambah parah.

Terjadinya Retinopati Diabetika

Diabetes melitus bisa menyebabkan komplikasi pada mata karena rapuhnya pembuluh darah, bahkan bocor. Cairan darah yang bocor keluar dan pembuluh darah membawa lemak, kolesterol dan lainnya, yang bisa menyangkut pada sel-sel retina, sehingga mengganggu fungsi retina.

Diabetes melitus juga bisa menyebabkan penebalan pembuluh darah atau sumbatan, sehingga terjadi hipoksia. Sel darah retina tidak mendapatkan darah yang membawa protein, oksigen dan sebagainya. Ketika retina tidak mendapatkan oksigen, retina akan berespons dengan membentuk sebuah hormon yang berusaha membentuk pembuluh darah baru (neovaskular). Tetapi pembuluh darah baru ini rapuh dan mudah pecah, sehingga justru menimbulkan masalah. Selain itu jika tidak terbentuk pembuluh darah baru, akan terbentuk jaringan fibrosa (fibrosis) yang bersifat mudah kontraksi, sehingga menimbulkan kerusakan, robek, dan perdarahan.

Maka dalam penanganannya, pembuluh darah baru itu akan dihancurkan. Tidak boleh ada. Caranya, dengan laser. Daerah-daerah yang tidak mendapatkan suplai darah dilaser, supaya tidak memproduksi pembuluh darah lagi.

Penanganan Retinopati Diabetika

Pada kasus retinopati diabetika, penanganan yang paling disarankan adalah dengan laser. Biasanya, penanganan ini juga akan disertai dengan operasi katarak. Hal ini karena diabetes melitus juga sering menimbulkan komplikasi katarak.

Operasi katarak dilakukan untuk memudahkan menangani retina, karena katarak menghalangi retina, sehingga mengganggu dalam proses observasi retina. Katarak juga bisa menyerap laser yang sedianya untuk menangani masalah retina.

Operasi retina dilakukan bila sudah terjadi perdarahan. Namun, penanganan ini tidak bisa mengembalikan kondisi semula. Melainkan, mencegah agar gangguan retina tidak makin bertambah parah yang berujung pada kebutaan permanen. Karena itu pencegahan sejak dini sangat disarankan.

Jika sudah mengalami, sangat dianjurkan untuk menjaga kondisi, agar diabetes melitus tidak bertambah parah, antara lain dengan menjaga agar tidak hipertensi, menjaga kolesterol dan gula tidak sampai naik, serta menjaga emosi.

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.