Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
HEADER1b
header kebiasaan baru new
GANTI SUITE ROOM
esc
slide_1200x500_call_center
early screening header web

Gizi pada Lansia dengan Demensia

Secara global populasi lansia diprediksi terus mengalami peningkatan. Secara global, Asia dan Indonesia dari tahun 2015 sudah memasuki era penduduk menua (ageing population) karena jumlah penduduknya yang berusia 60 tahun ke atas (penduduk lansia) melebihi angka 7%. Semakin tua seseorang akan disertai dengan penurunan kesehatan serta kemunculan berbagai masalah psikis dan ekonomi yang perlu penatalaksanaan baik dan kolaborasi antar profesi.

Besarnya jumlah penduduk lansia di Indonesia di masa depan membawa dampak positif maupun negatif. Berdampak positif, apabila penduduk lansia berada dalam keadaan sehat, aktif dan produktif. Disisi lain, besarnya jumlah penduduk lansia menjadi beban jika lansia memiliki masalah penurunan kesehatan yang berakibat pada peningkatan biaya pelayanan kesehatan, penurunan pendapatan / penghasilan, peningkatan disabilitas, tidak adanya dukungan sosial dan lingkungan yang tidak ramah terhadap penduduk lansia.

Masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia yang sering dikeluhkan oleh para lanjut usia atau sindroma geriatri yaitu kurang bergerak, mudah jatuh, gangguan intelektual / demensia, infeksi, gangguan pendengaran, penglihatan dan penciuman, depresi, malnutrisi, kemiskinan, penyakit pengaruh obat-obatan, sulit tidur, penurunan sistem kekebalan tubuh, gangguan seksual dan gangguan buang air besar dan buang air kecil.

Malnutrisi merupakan suatu keadaan defisiensi, kelebihan atau ketidakseimbangan zat gizi seseorang atau terdapat kesalahan dalam pemenuhan gizi yang dapat menyebabkan gangguan fungsi pada tubuh. Studi di beberapa negara menunjukkan bahwa meningkatnya usia merupakan salah satu faktor yang memicu permasalahan malnutrisi. Malnutrisi pada lansia bisa disebabkan karena menurunnya nafsu makan, kesulitan menelan karena berkurangnya air liur, cara makan yang lambat karena masalah pada gigi, mual karena depresi dan gangguan status fungsional.

Pada lansia berbeda dengan usia yang lain karena penurunan berbagai fungsi tubuh, adanya  penyakit kronik dan adanya keterbatasan. Pada lansia komposisi tubuh terdiri dari 30 – 40 %  zat padat, 60 – 70 % cairan dan terjadi penurunan metabolisme basal 2 % pertahun dimulai pada usia 40 tahun.

Untuk pemenuhan gizi pada lansia perlu mengetahui status gizinya, kebutuhan gizinya, mengimplentasikannya dan memberikan edukasi. Problem gizi pada lansia yang sering terjadi adalah penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, perubahan indera pengecap, gangguan mengunyah, gangguan menelan, konstipasi dan kesulitan akses makanan di samping itu sering terjadi gizi kurang, kelebihan berat badan dan obesitas.

Dalam perencanaan makannya, kebutuhan kalori usia lanjut relatif lebih rendah dibandingkan ketika masih muda karena tingkat aktivitas tubuh yang berkurang, energi menggunakan formula lansia, kebutuhan protein 0,8 – 1 gram / KgBB, kebutuhan lemak 20 – 25 % dan kebutuhan karbohidrat 60 – 65 % kebutuhan, kebutuhan serat sekitar 25 %, kebutuhan cairan 1500 CC, vitamin dan mineral sesuai dengan angka kecukupan gizi yang dianjurkan.

Penelitian di Australia menemukan diet Mediterranean-DASH Intervention  for Neurodegenerative Delay atau yang lebih dikenal sebagai diet MIND mengurangi risiko gangguan kognitif ringan atau demensia ketika berusia lanjut dan untuk meningkatkan kesehatan otak. Diet Mediterania merupakan diet yang memperbanyak  konsumsi ikan, buah-buahan, kacang-kacangan, sayuran, kacang-kacangan, dan minyak zaitun dan lebih rendah daging, susu, dan makanan olahan. Sedangkan diet MIND sebagian didasarkan pada diet Mediterania, namun juga termasuk makanan yang berhubungan dengan kesehatan otak. Ada 15 komponen yang harus diikuti dengan 10 diantaranya mendorong untuk makan sayuran berdaun hijau dan sayuran lain, berry, biji-bijian, kacang-kacangan, kacang-kacangan, ikan, unggas, minyak zaitun, serta menikmati sedikit anggur merah. Diet ini juga menyarankan pembatasan mentega dan margarin, keju, daging merah, makanan yang digoreng, dan kue serta kue kering. Mediterannian dash intervention untuk neurogeneratif delay merupakan gabungan 2 diet yaitu mediteranian dan dash dementia pada lansia sampai 53%, caranya yaitu dengan mengkonsumsi sayuran berdaun hijau setiap hari, sayuran lain minimal 1 kali sehari, kacang-kacangan 5 kali seminggu (diutamakan almond, mete dan walnut), strawberry dan karbohidrat komplek 3 kali sehari diutamakan beras merah, ikan minimal 1 kali seminggu, daging ayam atau unggas 2 kali seminggu dan gorengan 1 kali seminggu.

Pencegahan dementia secara umum dilakukan dengan menjaga sistem kardiovaskuler yang sehat, olah raga yang teratur, gizi yang bervariasi, mengendalikan obesitas, diabetes mellitus, hipertensi, jaga berat badan, batasi lemak jenuh dan kolesterol, kurangi gula dan garam, banyak minum air, dan memilih cemilan yang sehat.

Kontributor :

Retno Pangastuti, DCN, M. Kes-Instalasi Gizi, RSUP Dr. Sardjito

Ediana Kurniawati, SKM-UPKRS RSUP Dr Sardjito

 

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.