Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]

Obesitas dan Produktivitas Kerja

Produktivitas kerja pada hakekatnya ditentukan oleh banyak faktor. Faktor tersebut antara lain faktor dari dalam dirim manusia (internal) dan faktor di luar diri manusia (eksternal). Faktor di luar diri manusia dapat berupa gaji, disiplin, motivasi, lingkungan kerja, tekno-struktur yang dipakai dalam bekerja, sistem manajemen perusahaan, dan lain-lain. Faktor dari dalam diri manusia antara lain: usia, jenis kelamin, berat badan, riwayat kesehatan, dan status gizi. Status gizi merupakan salah satu aspek kesehatan kerja yang memiliki peran penging dalam kaitan produktivitas.

Status gizi dapat berkaitan erat dengan berat badan pekerja. Pekerja dengan berat badan berlebih akan meningkatkan risiko penyakit degeneratif yang dapat mengganggu produktivitas kerja. Studi Duijvenbode1 (2009) menunjukkan bahwa obesitas meningkatkan risiko terjadinya penyakit diabetes mellitus 2, penyakit jantung koroner, stroke, hipertensi, kantung empedu, kanker, sleep apneu, dan osteoarthritis.

Risiko berat badan berlebih pada pekerja dapat disebabkan oleh perubahan pola aktivitas dan pola makan. Selain itu disebutkan juga bahwa ada perbedaan berat badan antara pekerja yang bekerja di kantor dan di lapangan, yang disebabkan karena adanya perbedaan aktivitas fisik pekerja.

Ungkapan “gemuk tapi sehat” menjadi pembenaran bagi beberapa orang untuk tidak memprioritaskan penurunan berat badan. Padahal meski mereka rajin olahraga, risiko penyakitnya tetap sama selama bobotnya tidak ideal. Peningkatan berat badan sendiri biasa disebabkan oleh sedentary lifestyle dan menurunnya aktivitas fisik terutama pada usia kerja yang sangat sibuk. Kebugaran fisik yang didapatkan dari aktivitas fisik yang teratur dan nutrisi yang seimbang di sisi lain mempunyai korelasi yang positif terhadap kejadian kardiovaskuler (Martin dan Johan, 2018). Selain itu, risiko kematian dini pada orang gemuk 30% lebih tinggi dibandingkan pemilik bobot ideal. Peningkatan risiko ini tetap perlu meski sama-sama rajin olahraga. Untuk itu disimpulkan bahwa berat badan ideal adalah kunci penting untuk hidup sehat. Olahraga tetap penting, tetapi tidak kalah pentingnya untuk menjaga keseimbangan asupan kalori dengan aktivitas fisik.

Dampak obesitas pada kesehatan:

  • Obesitas berisiko dua kali lipat mengkibatkan terjadinya serangan jantung koroner, stroke, diabetes mellitus, dan hipertensi
  • Obesitas berisiko tinggi untuk mengakibatkan penyakit kanker. Laki-laki berisiko tinggi menderita kanker usus besar dan kelenjar prostat, sedangkan wanita berisiko tinggi untuk menderita kanker payudara dan leher rahim.
  • Obesitas berisiko tiga kali lipat terkena batu empedu
  • Obesitas berisiko meningkatkan lemak dalam darah dan asam urat
  • Obesitas berisiko mengakibatkan terjadinya sumbatan napas saat tidur
  • Obesitas dapat mengakibatkan menurunnya tingkat kesuburan reproduksi

Ada dua cara untuk mengukur apakah seseorang obesitas atau tidak. Cara tersebut adalah:

  1. Indeks Massa Tubuh (IMT)

Indeks massa tubuh adalah ukuran yang digunakan untuk mengetahui status gizi seseorang yang didapatkan dari perbandingan berat dan tinggi badan. Maka dari itu, setiap orang harus menghitung berapa nilai IMT-nya agar tahu status gizi tubuhnya normal atau tidak. Rumus mengukur IMT yaitu:

IMT      = Berat badan (kg)
Tinggi badan (m)2

 

Hasil dari pengukuran IMT tersebut dikategorikan menjadi:

Underweight                      : < 18,5

Normal                               : 18,5 – 24,9

Pre-Obesitas                       : 25 – 29,9

Obesitas Kelas 1     : 30 – 34,9

Obesitas Kelas 2     : 35 – 39,9

Obesitas Kelas 3     : > 40

  1. Lingkar Perut

Cara kedua yang dapat dilakukan untuk mengukur obesitas adalah dengan mengukur lingkar perut. Lingkar perut untuk laki-laki yang mengalami kelebihan berat badan adalah lebih dari 90 cm. Pada perempuan, lingkar perut yang menandakan bahwa perempuan tersebut mengalami kelebihan adalah lingkar perut lebih dari 80 cm.

Cara mengurangi dan menghindari obesitas dapat dilakukan dengan mengatur pola makan, sebagai berikut:

  1. Biasakan makan dengan model piring makan T. Dengan menggunakan model piring makan T, porsi makan dapat diatur. Aturan makan dengan piring T adalah setengah piring makan diisi dengan sayuran, setengahnya dibagi menjadi dua, seperempat berisi nasi, dan seperempatnya berisi lauk.
  2. Batasi konsumsi gorengan dan lemak trans (margarin).
  3. Jadwal makan teratur dengan porsi sedikit tapi lebih sering.
  4. Pola makan yaitu makan pagi, selingan, makan siang, selingan, dan makan malam.
  5. Tidak merokok dan tidak minum minuman beralkohol.
  6. Tingkatkan konsumsi karbohidrat kompleks dan batasi konsumsi karbohidrat sederhana (gula).
  7. Memilih ragam makanan yang berbeda setiap hari dan memakan cukup sayuran hijau dan buah berwarna.

Selain mengatur pola makan, cara mengurangi dan menghindari obesitas yaitu dengan mengatur gaya hidup kita sehari-hari dengan cara:

  1. Menghindari konsumsi minuman ringan dan bersoda
  2. Buat target terukur untuk aktivitas fisik, misalnya target jalan seribu langkah per hari
  3. Berpikir positif dan mengenali meosi makan
  4. Batasi konsumsi jus buah
  5. Timbang berat badan dan ukur lingkar perut secara teratur

Kontributor :

Unit Keselamatan dan Kesehatan Kerja (UK3)

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.