Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Speech Therapis (Terapi Wicara)

Anak tuna rungu mempunyai kecerdasan yan beragam, ada yang cukup bagus, normal, maupun tinggi. Jika dikelola dengan baik terutama dibidang akademik, maka individu tersebut akan lebih maksimal masa depannya maupun fungsi akademiknya, akan tetapi di sisi lain dengan mengalami keterlambatan atau gangguan pendengaran otomatis perkembangan bahasa dan perilaku wicaranya akan terganggu.

Bahasa bicara merupakan suatu performa, dalam hal ini suatu etika, karakteristik, kemampuan adaptasi hingga kemampuan negosiasi harus diaktualisasikan dengan kemampuan komunikasi dalam bentuk bahasa dan bicara. Bagi penyandang tuna rungu harus dilatih berbicara sejak dini, karena tuna rungu tidak memiliki pengalaman atau rekaman karena saluran auditori di dalam otaknya terganggu, maka tidak memiliki pengalaman bagaimana memproduksi huruf-huruf baik konsonan maupun vokal, bagaimana memelodiskan suara, hingga kosa kata perbendaan.

Bagi anak-anak yang terlambat dalam berbicara untuk sesegera mungkin melakukan terapi wicara agar bisa mengejar ketertinggalan, dalam hal ini bisa diketahui apakah anak tersebut normal atau menyanang tuna rungu, dilihat dari gejala-gejala yang dialami anak tersebut. Untuk anak-anak dalam menjalani sekali terapi membutuhkan waktu 30 hingga 40 menit dan untuk dewasa membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam. Diharapkan kepada orang tua agar memperhatikan dan mengenali anaknya lebih awal sehingga penanganan lebih cepat dilakukan dan semakin cepat mengejar ketertinggalan.

Ada dua intervensi yang bisa dilakukan kepada anak yang menderita gangguan pendengaran yaitu dengan tanpa operasi dan dengan operasi. Dengan tanpa operasi anak mempunyai pengalaman yang maksimal tentang bagaimana bersuara dan berbahasa dengan maksimal, sedangkan dengan operasi anak akan mempunyai pengalaman bagaimana bersuara dan berbahasa sehingga keberhasilannya akan lebih maksimal dengan operasi. Pengalaman bersuara dan berbahasa dalam hal ini sangatlah penting karena merupakan suatu recording di memori yang harus diterima dengan syaraf pendengaran yang maksimal.

Yang perlu diperhatikan untuk tuna rungu, yang pertama yaitu dari pemahaman  orang tua kepada anak, dimana orang tua harus selalu memberi support baik secara psikologis maupun materi, sedangkan yang kedua yaitu arah anak, dimana hal ini menjadi hal yang paling dasar. Secara manual anak berumur 4 bulan sudah bisa diketahui apakah dia menyandang tuna rungu atau tidak dengan beberapa rangsangan yang menimbulkan respon anak tersebut.

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.