Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]
slide_1200x500_gedung_sardjito
slide_1200x500_putih
slide_1200x500_mbah_jito

Prof. Dr. Sardjito

slide_1200x500_perawat_amarta

Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu dan terjangkau masyarakat.

slide_1200x500_suite_room

Suite Room

slide_1200x500_call_center

Tiga Hal Dasar yang Perlu Disiapkan pada Anak Saat Masa Pertama Sekolah

Masa masuk sekolah adalah masa yang bisa saja menakutkan bagi anak. Terlebih bagi anak yang baru pertama kali hendak memulai masa sekolahnya di taman kanak-kanak atau kelompok bermain (KB/TK). Banyak anak menangis histeris pada masa-masa awal masuk sekolah dan minta pulang. Kondisi demikian juga bisa terjadi dalam tingkat yang lebih serius, sehingga anak membutuhkan penanganan psikologis. Berbagai kejadian mulai dari anak menangis histeris, minta ditunggui saat berada di bangku kelas, tidak mau berpisah dengan orang tua, adalah beberapa peristiwa yang umum dialami anak bersama orang tua dimasa awal masuk sekolah. Anak mengalami kecemasan, bahkan ketakutan.

Kecemasan yang dialami anak yang akan bersekolah, disebut cemas perpisahan. Meskipun bisa dianggap wajar, namun kecemasan pada anak yang akan memasuki masa pertama sekolah harus bisa diatasi secepat mungkin. Pada umumnya, anak akan merasa cemas dan takut bersekolah selama dua minggu pertama. Selama itu, biasanya anak masih harus ditunggui orang tua. Namun ada sebagian anak yang mengalami kecemasan berlebih, hingga menyebabkan gangguan fisik. Misalnya, mengaku mual ketika akan diajak berangkat sekolah, pusing-pusing atau gejala fisik lain yang lebih serius, yaitu mual berujung muntah. Jika diperiksakan, tidak ada kelainan pada fisik anak. Namun, rasa pusing dan muntah itu tetap dialami si anak. Pada kasus inilah anak membutuhkan peran psikiater atau psikolog anak.

Dampak yang bisa timbul akibat dari kecemasan, juga bisa berupa sulitnya konsentrasi. Misalnya, anak yang baru masuk sekolah dasar, sulit diajak konsentrasi. Tidak bisa diam. Bahkan, tidak mampu mencari bukunya sendiri yang disimpannya di dalam tas. Apalagi, mengerjakan tugas. Berbagai kemungkinan yang bisa terjadi pada fase kecemasan atau kerentanan ini, sangat bergantung pada kekuatan anak. Juga seberapa tepatnya pemberian pengertian kepada anak.

Tanpa disadari, orang tua sering kali justru menambah kecemasan anak menjadi makin besar. Misalnya, dengan memberikan nasihat-nasihat berlebih, yang dampaknya justru membuat anak makin cemas. Orang tua sibuk memberikan nasihat yang sebenarnya berlebihan, sehingga lupa memberikan optimisme atau gambaran yang menyenangkan pada anak tentang sekolah.

Untuk mencegah kecemasan berlebih pada anak yang hendak mengawali masa sekolahnya, maka berbagai hal perlu diperhatikan. Persiapan atau menyiapkan anak untuk masuk sekolah harus dilakukan jauh hari sebelumnya. Orang tua atau siapa pun yang diberi tanggung jawab terhadap anak, juga harus dapat mengendalikan kecemasannya sendiri menghadapi anaknya yang akan memasuki masa sekolah.

Ada tiga hal dasar yang harus dipersiapkan bagi anak yang akan memulai masa sekolah. Yaitu, aspek keterampilan atau kepandaian, aspek afektif (perasaan, psikologi, sosial, dan aspek fisik-kognitif.

  1. Aspek Keterampilan

Ketrampilan atau kepandaian, berhubungan dengan kemandirian anak. Kemampuan anak untuk memenuhi keperluannya sendiri pada batas kemampuan sesuai usianya. Kemandirian bisa diajarkan sejak dini, pada usia 2-3 tahun. Misalnya, dengan membiasakan anak untuk merapikan mainannya sendiri, makan sendiri dan lainnya. Anak yang terbiasa dilayani atau tidak pernah dibiasakan untuk mandiri, biasanya akan kebingungan saat memulai masa sekolahnya atau di lingkungan baru, atau terpisah dari orang tua atau pengasuhnya.

  1. Aspek Afektif

Kesiapan perasaan, afektif, juga meliputi kesiapan psikologi dan sosial, seringkali terlupakan. Psikologi sosial anak meliputi kemampuan anak berinteraksi dengan teman sebaya, dan dengan lingkungan sosialnya. Kemampuan afektif, bisa ditanamkan sejak dini dengan membangun komunikasi yang baik. Dengan komunikasi yang hangat, anak akan bisa mengutarakan perasaannya, sehingga mampu menyampaikan keluhan.

  1. Aspek Fisik

Meliputi kondisi fisik anak atau psikomotorik, seperti berjalan, dan aktivitas fisik lainnya. Jika anak ternyata masih memiliki kendala fisik, misalnya sakit, atau bahkan berjalannya belum kuat atau belum stabil, perlu disiapkan terlebih dahulu. Aspek kognitif, yaitu kemampuan berpikir. Tidak hanya membaca dan menulis, namun lebih mendasar lagi, yaitu konsentrasi. Juga daya ingat dan kemampuan membedakan. Kemampuan kognitif dibutuhkan bagi anak yang sudah memasuki masa sekolah dasar. Kemampuan ini bisa diajarkan sejak dini. Misalnya, sejak di taman kanak-kanak diajak bermain yang membutuhkan ketekunan, membuat karya, dan sejenisnya. Kekeliruan orang tua, bahkan guru, adalah memaksakan kemampuan kognitif pada anak usia dini atau di bawah usia 5 tahun. Pendidikan usia dini (PAUD) bagi anak, sejatinya adalah upaya stimulus bagi perkembangan anak. Mulai dari perkembangan berpikir, emosi, sosial, motorik halus dan kasar, dan sebagainya. Bukan akademik, yang memang belum waktunya ditekankan pada anak usia dini. Memaksakan anak untuk memiliki kemampuan kognitif sebelum waktunya, justru akan membuat anak merasa tertekan, merasa tidak nyaman bersekolah. Akibatnya, perkembangan anak justru terhambat.

Kontributor :

Dr. dr. Budi Pratiti, Sp.KJ (K) ; Intan Kusuma Wardhani, M.Psi.

KSM Kesehatan Jiwa ; Psikolog Instalasi Kesehatan Anak, RSUP Dr. Sardjito

Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.