Emergency (0274) 583613    (0274) 631190, 587333    Fax:(0274) 565639    [email protected]

Waspada Ancaman Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan 1,13 miliar orang di dunia menderita hipertensi. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Riskesdas 2018, terdapat lebih dari 63 juta penduduk menderita penyakit ini dengan angka kematian lebih dari 600 ribu kasus setiap tahunnya. Terdapat 12 orang penduduk Indonesia yang meninggal setiap 10 menit akibat hipertensi dan komplikasinya.

Hipertensi terjadi ketika tekanan di dalam pembuluh darah melebihi ambang batas normal. Tekanan darah terdiri dari dua komponen, yaitu sistolik (saat jantung berdenyut) dan diastolik (saat jantung beristirahat). Tekanan darah dikatakan tinggi apabila tekanan sistolik ≥140mmHg dan/atau tekanan darah diastolik ≥90mmHg. Setiap orang memiliki risiko menderita hipertensi, bahkan remaja, ibu hamil, hingga lansia. Namun, risiko tersebut akan semakin meningkat pada perokok baik aktif maupun pasif, memiliki riwayat keluarga yang menderita hipertensi, jarang melakukan aktivitas fisik, konsumsi garam berlebih dan/atau rendah serat, usia tua, tingkat stres yang tinggi dan memiliki riwayat penyakit lain seperti obesitas, diabetes, dan penyakit lainnya.

Sebagian besar hipertensi tidak memiliki tanda atau gejala apapun, sehingga sering disebut sebagai “silent killer”. Pada sebagian orang, hipertensi dapat memberi gejala berupa nyeri kepala, pusing, rasa mual, pandangan kabur, dada terasa berdebar, nyeri dada, sulit tidur, rasa cemas, mudah lelah dan berbagai gejala lainnya. Satu-satunya cara mengenali hipertensi adalah dengan melakukan pengukuran tekanan darah, bukan berdasarkan gejala yang muncul. Tidak nyeri kepala bukan berarti tidak hipertensi, begitupun sebaliknya. Dengan tidak adanya tanda dan gejala yang muncul, hipertensi sering kali diketahui ketika sudah memberikan komplikasi penyakit lainnya. Kompilasi tersebut dapat berupa stroke, serangan jantung, gagal ginjal, kebutaan, gangguan saraf, dan lainnya.

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama selain merokok, kadar kolesterol tinggi, dan diabetes  terhadap terjadinya stroke dan serangan jantung. Kedua penyakit ini merupakan pembunuh terbesar baik di Indonesia maupun dunia.

Adapun beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah hipertensi adalah dengan melakukan cek kesehatan secara rutin(minimal 6 bulan sekali), enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik (minimal 30 menit setiap hari), diet seimbang (rendah garam, gula dan lemak serta konsumsi lebih banyak buah dan sayur), istirahat cukup, dan kelola stres. Sedangkan beberapa hal yang dapat dilakukan bila menderita hipertensi antara lain dengan periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter, atasi dengan pengobatan yang tepat dan teratur, tetap diet dengan gizi seimbang (rendah garam, maksimal 1 sendok the per hari), upayakan aktivitas fisik dengan rutin dan aman, dan hindari asap rokok, alkohol, dan zat karsinogenik lainnya.

Perlu diingat bahwa hipertensi tidak selalu memberikan gejala. Hipertensi dapat dicegah dan diobati dengan menjalani gaya hidup yang sehat. Bila sudah mendapat obat penurun tekanan darah, konsumsi secara rutin dan teratur sesuai anjuran dokter. Jangan menghentikan konsumsi obat hanya karena sudah merasa baikan. Penghentian konsumsi obat harus berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah dan sepengetahuan dokter. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko kematian.

Kontributor :

dr. Metalia Puspitasari, M.Sc., Sp.PD-KGH

KSM Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Referensi :

  • Riset Kesehatan Dasar 2018
  • World Health Organization,2019
Author Info

Humas Sardjito

Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

No Comments

Comments are closed.